Densus 88 Geledah Gelanggang Mahasiswa Universitas Riau

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Densus 88 membawa barang bukti saat penggeledahan usai penangkapan terduga teroris di Jemaras, Klangenan, Kab. Cirebon, Jawa Barat, 17 Mei 2018. Tim Densus 88 menangkap dua terduga teroris yang tergabung dalam jaringan JAD. ANTARA FOTO/Risky Maulana

    Tim Densus 88 membawa barang bukti saat penggeledahan usai penangkapan terduga teroris di Jemaras, Klangenan, Kab. Cirebon, Jawa Barat, 17 Mei 2018. Tim Densus 88 menangkap dua terduga teroris yang tergabung dalam jaringan JAD. ANTARA FOTO/Risky Maulana

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Densus 88 Antiteror menggeledah gedung Gelanggang Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Sabtu, 2 Juni 2018. Tim Densus 88 mengamankan dua tas ransel beserta bungkusan plastik. Belum diketahui isi tas tersebut.

    Pantauan Tempo, tim Gegana dari kepolisian turut mengamankan area kampus. Petugas memasang garis polisi di sekeliling kampus. Kehadiran petugas bersenjata lengkap menarik perhatian mahasiswa.

    Baca: Densus 88 Geledah Rumah Terduga Teroris di Bekasi, Ini Hasilnya

    Petugas mengerahkan kendaraan taktis Barracuda beserta tim penjinak bom (Jibom) dari Gegana, Brimob Polda Riau. Penyisiran berakhir sekitar pukul 16.30. Namun tidak satu pun dari kepolisian berkomentar terkait penggeledahan itu.

    "Nanti saja, nanti saja," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Hadi Poerwanto.

    Sementara itu, Dekan Fisipol Unri Syafri mengaku tidak mengetahui apa yang terjadi. "Saya baru datang," ujarnya.

    Baca: Geledah 3 Rumah di Tasikmalaya, Densus 88 Sita Sejumlah Senjata

    Ia mengaku terkejut dengan adanya penggeledahan oleh petugas bersenjata lengkap. Syafri mengaku tidak ada hal mencurigakan dalam gelanggang mahasiswa itu. "Selama ini tidak ada mencurigakan di sana kami pun terkejut," ujarnya singkat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.