Syafii Maarif Berharap Kejadian di Pilkada DKI Tak Menular

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi narasumber saat acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, berharap peristiwa saat pilkada DKI Jakarta tak menular ke pilkada di daerah lain. Buya Syafii, begitu ia biasa dipanggil, ingin tahun politik berjalan damai. 

    Syafii menuturkan banyak isu agama dimanfaatkan untuk pilkada DKI. "Saat pilkada DKI, terjadi polarisasi sampai akar rumput, sampai pelosok-pelosok," katanya di Wisma Antara, Kamis malam, 29 Maret 2018. 

    Baca:
    Sandiaga Berharap Pilkada 2018 Mencontoh DKI
    Empat Kriteria Cawapres Jokowi Versi Buya Syafii Maarif

    Dampaknya, terjadi perpecahan di antara anak bangsa. "Di satu masjid, kita tidak tahu lagi ini kawan atau lawan," ujarnya.  

    Syafii bersyukur kondisi saat ini tampak aman. Di daerah rawan seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur terpantau tak ada isu agama yang dimainkan untuk pilkada. "Isu SARA saya rasa sudah menurun, walaupun masih (ada yang) mencoba juga."

    Baca juga: Prabowo Sebut Indonesia Bubar 2030, Buya ...

    Menurut dia, yang perlu diwaspadai saat ini adalah politik uang. "Mungkin lebih ganas politik uang." Buya mengaku prihatin dengan praktik itu. 

    Untuk menciptakan tahun politik yang damai, Buya berpesan agar peradaban politik di Indonesia ditingkatkan sehingga semakin dewasa. "Keberagaman ini kan suatu anugerah."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.