Ustad Abdul Somad Ungkap Soal Rasa Sarapan Bareng Jusuf Kalla

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berbincang dengan Ustad Abdul Somad jelang mengisi tausiyah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, 4 Februari 2018. Foto/Biro Pers Sekretariat Wakil Presiden

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berbincang dengan Ustad Abdul Somad jelang mengisi tausiyah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, 4 Februari 2018. Foto/Biro Pers Sekretariat Wakil Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Ustad Abdul Somad menyampaikan bahwa keluarganya akan penasaran dengan pendapatnya setelah sarapan pagi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada Ahad pagi, 4 Februari 2018.

    "Nanti malam insya Allah saya akan pulang ke rumah. Pertanyaan yang pasti, mereka akan bertanya, apa rasanya sarapan dengan Pak Wapres," kata Ustad Abdul Somad dalam ceramahnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. "Saya akan jawab satu kata, kenyang."

    Baca juga: Jusuf Kalla Salat Subuh Bareng Ustad Abdul Somad

    Ustad Somad mengaku tidak merasa asing dan kaku. Bahkan, dia merasa tidak seperti ada jarak dengan JK meski ada sejumlah pengamanan yang selalu berada di sekitar mereka.

    "Seperti sudah lama kenal (dengan JK). Entah perasaan saya saja," ujarnya disambut dengan tawa para jamaah.

    JK bersama Ustad Somad sebelumnya melaksanakan salat subuh berjamaah di Masjid Sunda Kelapa. JK yang merupakan Ketua Dewan Masjid Indonesia turut didampingi Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Syafruddin yang juga merupakan Wakil Ketua DMI. Selain itu, Kepala Badan Intelijen Negara Komisaris Jenderal Budi Gunawan ikut hadir sebagai salah satu pengurus DMI.

    Usai melaksanakan subuh berjamaah, JK mengajak Ustad Abdul Somad untuk sarapan pagi di rumah dinasnya. Keduanya berjalan kaki ke rumah dinas JK yang tidak terlalu jauh dari masjid, tepatnya berada di Jalan Denpasar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.