Pengamat Prediksi Bakal Ada 3 Poros Ini di Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lembaga survei mulai menyigi kombinasi presiden dan wakilnya yang akan dipilih dua tahun sebelum pemilu resmi digelar. (ilustrasi: Kendra H. Paramita).

    Lembaga survei mulai menyigi kombinasi presiden dan wakilnya yang akan dipilih dua tahun sebelum pemilu resmi digelar. (ilustrasi: Kendra H. Paramita).

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago memprediksi akan ada tiga poros dalam pemilu presiden atau pilpres 2019 nanti. Ketiga poros itu adalah poros Joko Widodo atau Jokowi, poros Prabowo Subianto, dan poros baru, yang mungkin akan dibentuk partai selain pendukung Jokowi atau Prabowo.

    “Hanya ada tiga kemungkinan itu. Jika poros ketiga ingin mengusung calon, mestinya adalah antitesis dari sosok Jokowi atau Prabowo,” kata Pangi saat dihubungi Tempo pada Ahad, 24 Desember 2017.

    Setelah pengesahan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi Undang-Undang Pemilu dengan presidensial threshold 20 persen, tampak ada dua kubu besar yang akan berkompetisi dalam pilpres 2019. Kubu pendukung presidential threshold, yang kemungkinan besar akan mengarahkan dukungan kepada Jokowi, adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), NasDem, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Hanura, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Adapun empat partai lain, Gerindra, Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang memilih walkout dalam sidang paripurna pengesahan Undang-Undang Pemilu, diprediksi akan mengusung kandidat pesaing Jokowi dalam pilpres mendatang.

    Baca juga: Dibandingkan SBY, SMRC: Posisi Jokowi Cukup Aman di Pilpres 2019

    Namun saat ini baru Gerindra dan PKS yang tampak mesra. Demokrat, yang belum tampak menentukan sikap dalam pilpres 2019, tidak menutup kemungkinan akan memberikan kejutan seperti pilkada DKI Jakarta lalu. Jika Demokrat berhasil merangkul PAN serta menarik PKB dan PPP, yang pernah berkoalisi saat mengusung Agus-Silvy dalam pilkada DKI 2017 putaran pertama lalu.

    Karena itu, Demokrat berpeluang membentuk poros baru untuk mengusung calon presiden. “Situasi itu akan persis seperti pilkada Jakarta. Namun di pilpres ini cukup berat bagi Demokrat karena tidak memiliki sosok yang bisa diusung menjadi capres (calon presiden),” ujar Pangi.

    Menurut Pangi, sosok Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) masih memungkinkan jika berada di level calon wakil presiden (cawapres). Selain AHY, kata dia, adapula nama lain, seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Jenderal Tentara Nasional Indonesia Gatot Nurmantyo. Namun, untuk saat ini, kata dia, nama-nama itu masih sepantaran dengan AHY di level cawapres. “Tapi banyak kemungkinan akan terjadi dalam dua tahun ini, entah Prabowo akan menyerahkan mandat kepada calon lain, kita belum bisa prediksi sekarang,” ucapnya.

    Baca juga: Di Survei PolMark, Duet Jokowi-Budi Gunawan Paling Unggul

    Menurut Pangi, isu-isu umat akan santer menyerang Jokowi sebagai inkumben, yang selama ini dianggap sebagai tokoh nasionalis-sekuler, yang memiliki jarak dengan agama dalam kehidupan berbangsa.

    Hal tersebut, Pangi melanjutkan, membuat posisi wakil yang dipilih Jokowi akan sangat menentukan dalam pilpres 2019. Dia memprediksi Jokowi akan memilih wakil dari luar Pulau Jawa dan yang memiliki ceruk pemilih berbeda dari dirinya. “Kalau Jokowi nasionalis-sekuler, wakilnya harus nasionalis-religius,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.