Megawati: Negara Kuat Jika Pancasila Diajarkan Sejak Kecil

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri memberikan sambutan saat pembukaan Festival Prestasi Indonesia di Jakarta, 21 Agustus 2017. Festival tersebut bertujuan untuk memberikan apresiasi atas karya-karya terbaik putra bangsa, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk memajukan bangsa. ANTARA FOTO

    Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri memberikan sambutan saat pembukaan Festival Prestasi Indonesia di Jakarta, 21 Agustus 2017. Festival tersebut bertujuan untuk memberikan apresiasi atas karya-karya terbaik putra bangsa, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk memajukan bangsa. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri sekaligus Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Idiologi Pancasila (UKP-PIP) mengatakan negara menjadi kuat jika Pancasila diajarkan terus menerus.

    "Negara kuat jika Pancasila diajarkan mulai dari keluarga bahkan sejak kecil, karena Pancasila adalah dasar negara," kata Megawati dalam acara Sarasehan Gebyar Bela Negara di Tondano, Senin, 11 Desember 2017.

    Megawati mengatakan selain diajarkan dalam keluarga, Pancasila pun harus dijadikan budaya, karena Pancasila merupakan pertahanan atau simbol negara.

    Baca juga: Megawati Pidato soal Pancasila di Forum Perdamaian di Korsel

    "Kalau negara ini tidak punya Pancasila maka dengan mudah bisa diporak-porandakan oknum yang tidak bertanggungjawab, harus juga dimasukan dalam kurikulum pendidikan," katanya.

    Megawati mengatakan kehidupan masyarakat pun harus dipersatukan terus agar bisa menjaga keutuhan negara. Megawati kemudian menyinggung tentang perjuangan tokoh proklamator Soekarno yang berjuang untuk Indonesia dan Pancasila.

    Dia juga mengatakan soal pengamalan Pancasila dan soal arti bela negara bagi kita dan kepada siapa kita harus membela negara.

    "Memberikan kesadaraan kepada masyarakat bagaimana untuk menjaga Pancasila dan negara kita," katanya.

    Mengenai pelaksanaan Bela Negara di Sulut, Megawati mengatakan, Sulut merupakan salah satu daerah yang paling toleransi, selain itu Sulut merupakan daerah yang memiliki keberagaman suku, ras, agama.

    "Sulut menjadi contoh bagi daerah lain, karena tetap menjaga kerukunan masyarakat di Indonesia," ungkapnya.

    Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengatakan Sarasehan Bela Negara adalah program dari Kementerian Pertahanan, Bela Negara bukan akan mengangkat senjata, namun berkaitan dengan rasa memiliki terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    "Melalui kegiatan ini diharapkan bisa menjadikan generasi muda akan makin cinta dengan NKRI, kiranya masyarakat Sulut makin cinta dengan Indonesia dan Pancasila," katanya.

    Menhan RI Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan budaya adalah perekat bangsa itulah wujud bela negara sesusungguhnya.

    Baca juga: Megawati Perkenalkan Salam Pancasila Ajaran Soekarno

    "Kita semua harus bangga telah ditakdirkan sebagai bangsa Indonesia karena bangsa kita adalah bangsa yang besar dengan kekayaan alam yang melimpah dari sabang sampai merauke," katanya.

    Selain itu, kata Menhan, kita berasa di antara benua besar sehingga Indonesia menjadi persimpangan budaya dan sangat menunjang perekonomian international.

    Kemudian, ungkapan rasa syukur itu, kata Megawati diwujudkan dengan membela negara. Bela Negara juga diatur dalam UUD pasal 27 yang mengatakan bahwa setiap warga berhak dan wajib membela negara, dari sikap perilaku kesadaran Bela Negara pada hakekatnya untuk memberikan kesadaran dalam nilai nilai tanah air setia untuk Pancasila sebagai ideologi negara.

    "Melalui Bela Negara diharapkan terwujud sikap disiplin beretika oleh karena kesadaran, sangat penting dalam wujud revolusi mental guna ketahanan yang tangguh, kita wajib mengantisipasi jati diri terhadap pengaruh ideologi ekonomi yang dapat berdampak pada hukum, budaya," ungkap Megawati.

    Tentunya, lanjut Menhan, kita tidak ingin Indonesia kalah pada pengaruh persaingan globalisasi, dimana yang lemah akan menjadi pecundang dan kalah terjajah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komponen Lokal Mobil Esemka Bima, Mesin Masih Impor dari Cina

    Mobil Esemka Bima 1.2 dan Bima 1.3. adalah dua model pikap yang diluncurkan oleh PT Solo Manufaktur Kreasi pada Jumat, 6 September 2019.