Setya Novanto Ajukan Surat Pengunduran Diri sebagai Ketua DPR

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR Setya Novanto bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 23 November 2017.  Setya Novanto masih berada dalam masa tahanan KPK hingga awal Desember mendatang. ANTARA

    Ketua DPR Setya Novanto bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 23 November 2017. Setya Novanto masih berada dalam masa tahanan KPK hingga awal Desember mendatang. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Koordinator Bidang Kesejahteraan Masyarakat DPP Partai Golkar Roem Kono membenarkan kabar soal adanya surat pengunduran diri Setya Novanto dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan merekomendasikan Aziz Syamsuddin untuk menggantikan dia sebagai Ketua DPR. Surat pengunduran diri itu disampaikannya kepada Fraksi Golkar.

    "Saya belum lihat langsung suratnya, tapi memang sudah ada pemberitahuan secara tidak resmi bahwa memang betul bahwa surat pengunduran diri itu dari Setya Novanto dan merekomendasikan Aziz Syamsuddin sebagai penggantinya," kata Roem saat ditemui di Pulau Dua Resto, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 9 Desember 2017.

    Baca juga: Fredrich Yunadi: Surat Setya Novanto untuk Jokowi Diduga Palsu

    Namun Roem menjelaskan, dia belum bertemu secara langsung dengan Aziz Syamsuddin dan Plt Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham terkait dengan surat pengunduran diri tersebut. "Kalau memang itu kebenaran, diumumkan saja kepada publik. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi," kata Roem.

    Menurut dia, DPP Partai Golkar harus segera membahas perihal surat Setya Novanto itu dalam rapat pleno partai awal pekan depan sekaligus membahas agenda musyawarah nasional luar biasa (munaslub). "Itu kewenangan Idrus Marham sebagai Plt dan keputusan tergantung rapat nanti," kata dia.

    Sebelumnya, Ketua DPD Partai Golkar Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena sudah mengungkapkan kabar pengunduran diri Setya Novanto akan diumumkan dalam waktu dekat. "Kami mendapatkan informasi valid bahwa Pak Novanto mau mundur," kata Melki dalam diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 2 Desember 2017.

    Menurut Melki, beberapa pertimbangan keputusan mundurnya Setya Novanto itu adalah adanya desakan dari pihak internal Partai Golkar, anggota DPR, Mahkamah Kehormatan Dewan, serta masyarakat Indonesia. "Ini mencermati dinamika publik yang berkembang," kata Melki.

    Baca juga: KPK Tak Khawatir dengan Hakim yang Menyidangkan Setya Novanto

    Sampai berita ini diturunkan, Tempo masih berupaya meminta konfirmasi secara langsung kepada Idrus Marham dan Aziz Syamsuddin soal surat pengunduran diri Setya Novanto dari Ketua DPR sekaligus menunjuk Aziz untuk menggantikannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.