Difabel Dwi Aryani Menang, Etihad Airways Dihukum Rp 537 Juta

Ekspresi Dwi Aryani setelah memenangkan seluruh gugatanya di Pengadilan Negri Jakarta Selatan, Jakarta, 4 Desember 2017. Dwi memenangkan gugatan atas kasus di turunkannya Dwi dari pesawat Etihad Airways karena ia mengunakan kursi roda. Tempo/ Ilham Fikri

TEMPO.CO, Jakarta - Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan gugatan difabel Dwi Aryani terhadap maskapai Etihad Airways. Dwi, seorang penyandang disabilitas, diturunkan maskapai itu karena terbang tanpa pendamping dan dianggap tidak bisa menyelamatkan diri bila terjadi kecelakaan.

"Tergugat I (Etihad Airways) telah melanggar hukum dan melanggar kepatutan serta melakukan diskriminasi terhadap penggugat sebagai penyandang disabilitas," kata hakim ketua, Ferry Agustina Budi Utama, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin, 4 Desember 2017.

Baca juga: Divonis Hari Ini, Berikut Harapan Difabel terhadap Etihad

Ferry mengatakan Etihad Airways dianggap telah melakukan perbuatan yang masuk kategori melawan hukum Pasal 134 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pihak Etihad, kata dia, seharusnya memberikan pelayanan yang sama kepada Dwi dan tidak memintanya turun.

Ferry menjelaskan, sebelum terbang, Dwi telah menginformasikan bahwa dia adalah penyandang disabilitas. "Tergugat I harusnya memberikan fasilitas aksesibilitas. Apalagi semua syarat telah dilakukan penggugat," ujarnya.

Atas pertimbangan itu, hakim memerintahkan Etihad membayar ganti rugi Rp 537 juta, yang terdiri atas ganti rugi materiil Rp 37 juta dan imateriil Rp 500 juta.

Selain membayar Rp 537 juta, hakim memerintahkan Etihad menyampaikan permohonan maaf kepada Dwi melalui surat kabar Koran Kompas.

Selain menggugat Etihad Airways, Dwi menggugat PT Jasa Angkasa Semesta (PT JAS) dan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan ke pengadilan. Namun hakim menolak gugatan terhadap keduanya.

Menurut Ferry, PT JAS dan Dirjen Perhubungan Udara tidak melakukan pelanggaran hukum lantaran keduanya tidak berperan langsung saat Dwi diturunkan dari pesawat.

Adapun kuasa hukum Etihad Airways, Gerald Saratoga Salayar, enggan berkomentar banyak terkait dengan vonis pengadilan yang memenangkan Dwi Aryani. "Kami sebagai kuasa hukum tidak bisa kasih komentar apa-apa. Apa pun langkah ke depan, nanti keputusan dari Etihad sendiri, kami harus komunikasi dulu," ucapnya.






Menteri Energi Israel Tidak Bisa ke Tempat KTT COP26 dengan Kursi Roda

2 November 2021

Menteri Energi Israel Tidak Bisa ke Tempat KTT COP26 dengan Kursi Roda

Menteri energi Israel penyandang disabilitas menyayangkan panitia tidak menyediakan sarana difabel yang baik selama KTT COP26.


Empat Jenis Perangkat Prostesis yang Biasa Dipakai Penyandang Disabilitas

6 September 2021

Empat Jenis Perangkat Prostesis yang Biasa Dipakai Penyandang Disabilitas

Secara umum, ada empat jenis perangkat prostesis, yaitu transradial, transfemoral, transtibial, dan transhumeral


Sebelum Gencatan Senjata, Serangan Israel Tewaskan Keluarga Difabel

21 Mei 2021

Sebelum Gencatan Senjata, Serangan Israel Tewaskan Keluarga Difabel

Seorang pria Palestina disabilitas, istrinya yang sedang hamil, dan putri mereka yang berusia tiga tahun tewas akibat serangan Israel pada Rabu kemari


Ketua PBNU Imam Aziz: UU Cipta Kerja Mencacatkan Penyandang Disabilitas

1 November 2020

Ketua PBNU Imam Aziz: UU Cipta Kerja Mencacatkan Penyandang Disabilitas

Ada kekeliruan tekstual dan substansial dari UU Cipta Kerja. Yang mendasar adalah menggunakan istilah penyandang cacat, bukan penyandang disabilitas.


Penyandang Disabilitas Lintas Agama Berdoa Ada Revisi UU Cipta Kerja

30 Oktober 2020

Penyandang Disabilitas Lintas Agama Berdoa Ada Revisi UU Cipta Kerja

Sejumlah ketentuan dan penyebutan difabel dalam UU Cipta Kerja bertentangan dengan Undang-undang Penyandang Disabilitas.


Jangan Sebut Penyandang Cacat, Paradigmanya Beda dengan Penyandang Disabilitas

28 Oktober 2020

Jangan Sebut Penyandang Cacat, Paradigmanya Beda dengan Penyandang Disabilitas

Berikut lima perbedaan paradigma dalam istilah penyandang cacat dengan penyandang disabilitas. Setop menggunakan frasa penyandang cacat.


Syarat CPNS Diskriminatif, Amnesty: Mengecewakan, Harus Dicabut

23 November 2019

Syarat CPNS Diskriminatif, Amnesty: Mengecewakan, Harus Dicabut

Amnesty International Indonesia menilai Kejaksaan Agung diskriminatif dalam rekrutmen CPNS karena melarang LGBT dan cacat fisik melamar.


Tingkatkan Peluang Pekerja Disabilitas untuk Industri Pariwisata

13 Mei 2019

Tingkatkan Peluang Pekerja Disabilitas untuk Industri Pariwisata

Industri Pariwisata di Sumatera Selatan (Sumsel) diminta untuk memberi peluang bagi pekerja penyandang disabilitas di sektor pariwisata


Ini Cara Canggih Disabilitas Ganda Buta - Tuli Berkomunikasi

5 April 2019

Ini Cara Canggih Disabilitas Ganda Buta - Tuli Berkomunikasi

Setiap penyandang disabilitas memiliki cara berkomunikasi dan berinteraksi yang berbeda. Ini cara penyandang disabilitas ganda, berkomunikasi


20 Persen Pasien Kanker Berisiko Besar Hadapi Kondisi Disabilitas

21 Februari 2019

20 Persen Pasien Kanker Berisiko Besar Hadapi Kondisi Disabilitas

Salah satu resiko terbesar yang dapat dihadapi pasien kanker adalah kondisi disabilitas. Ini kata dokter.