Banjir dan Longsor di Pacitan, 20 Orang Meninggal Dunia

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan saat banjir merendam sejumlah desa dan kelurahan termasuk pusat Kota Pacitan, Jawa Timur, Rabu (29/11). ANTARA FOTO

    Pemandangan saat banjir merendam sejumlah desa dan kelurahan termasuk pusat Kota Pacitan, Jawa Timur, Rabu (29/11). ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Banjir dan longsor di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, masih berlanjut dan menelan banyak korban. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 25 korban jiwa dalam bencana ini.

    Baca: BNPB: Banjir dan Longsor Pacitan Merusak Seribuan Bangunan

    "Di antaranya 20 orang ditemukan meninggal dunia. Lima orang meninggal akibat banjir dan 15 orang lainnya tewas akibat tanah longsor. Sementara lima korban lainnya belum ditemukan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat keterangan tertulis pada Sabtu, 2 Desember 2017.

    Banjir dan longsor yang melanda Pacitan pada 27-28 November 2017 lalu, disebabkan siklon tropis Cempaka yang menimbulkan curah hujan ekstrem dengan intensitas 383 milimeter per hari.

    Dekatnya posisi siklon tropis Cempaka dengan daratan Pacitan, yakni hanya 23 kilometer sebelah selatan Pacitan di Samudra Hindia, telah menyebabkan kelumpuhan total. Banjir dan longsor bersamaan dengan gelombang laut tinggi membuat semua sungai yang bermuara di Teluk Pacitan meluap hingga terjadi banjir besar. 

    Penanganan darurat banjir dan longsor di Kabupaten Pacitan terus dilakukan. Sampai saat ini BNPB mencatat jumlah pengungsi mencapai 2.050 jiwa dengan kerusakan rumah mencapai 1.709 unit. Kerusakan paling parah terdapat di tujuh kecamatan di Kabupaten Pacitan, yakni Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Tulakan, Tegalombo, Nawangan, Arjosari, dan Ngadirojo.

    "Kondisi terkini, banjir sudah surut namun menyisakan genangan di wilayah Kecamatan Pacitan dengan ketinggian sekitar 20-30 cm," kata Sutopo.

    Upaya pencarian dan penyelamatan korban serta penanganan dampak banjir dan longsor masih terus dilakukan. Sebanyak 1.174 personel gabungan dikerahkan untuk penanganan darurat. Tim gabungan terdiri dari BPBD Pacitan, TNI, Polri, Basarnas, PMI, SKPD, BPBD Magetan, Baznas Tanggap Darurat, ACT, Perhutani, SAR FKM Solo, LMI, dan relawan.

    "BNPB juga memberikan dukungan helikopter Bell 412 untuk percepatan penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Pacitan yang tiba di Pacitan pukul 11.00 WIB tadi," kata dia.

    Bantuan materiil maupun non-materiil, kata Sutopo, masih berdatangan sampai saat ini. "Hari ini asosiasi pengusaha Banjarmasin asal Pacitan memberikan bantuan dana sebesar Rp 500 juta. Telkomsel juga bersedia memberikan BTS mobile untuk daerah terdampak yang masih sulit untuk berkomunikasi," kata dia.

    Baca: BNPB: Banjir di Pacitan Sudah Mulai Surut

    Adapun kebutuhan mendesak yang diperlukan untuk para pengungsi saat ini, kata Sutopo, adalah air minum dan air bersih untuk pembersihan lingkungan, pakaian dan buku sekolah, alat berat, dan penampungan air bersih.

    Simak berita banjir dan longsor Pacitan di tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.