Sidang E-KTP, Andi Narogong: Saya Dijadikan Bantargebang

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa Andi Narogong, menjalani pemeriksaan, di gedung KPK, Jakarta, 28 November 2017. Andi Narogong diperiksa sebagai saksi terkait pengembangan dan penyidikan kasus korupsi e-KTP untuk tersangka Ketua DPR Setya Novanto. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa Andi Narogong, menjalani pemeriksaan, di gedung KPK, Jakarta, 28 November 2017. Andi Narogong diperiksa sebagai saksi terkait pengembangan dan penyidikan kasus korupsi e-KTP untuk tersangka Ketua DPR Setya Novanto. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Andi Agustinus alias Andi Narogong, terdakwa kasus korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik, membeberkan semua fakta terkait dengan proyek e-KTP. Kepada majelis hakim, Andi mengungkapkan alasannya menceritakan semua fakta di balik tender proyek senilai Rp 5,9 triliun itu.

    "Berjalannya waktu, saya itu enggak mau menyulitkan orang, tapi kok saya dijadikan Bantargebang, tempat pembuangan akhir dari semuanya," kata Andi dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Kamis, 30 November 2017.

    Baca juga: Sidang E-KTP, Andi Narogong Beberkan Peran Setya Novanto

    Ia pun membeberkan peran sejumlah nama yang terlibat dalam proyek e-KTP. Beberapa nama disebut seperti peran anggota Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto, pengusaha Paulus Tannos, Johannes Marliem, Anang Sugiana Sudihardjo, dan Made Oka Masagung. "Mau enggak mau dengan bukti rekaman KPK, ya saya sebagai terdakwa berusaha untuk kooperatif," ujarnya.

    Andi, misalnya, menyebutkan ada pertemuan antara Setya Novanto dan Johannes Marliem di kantor Setya di gedung DPR. Tujuannya untuk membahas proyek bersama Kementerian Dalam Negeri dan DPR. "Saya sampaikan pada Marliem untuk meyakinkan, nanti kita bawa ke Novanto, Chairuman Harahap, dan Bu Diah (mantan Sekjen Kemendagri)," ujarnya.

    Andi juga menyebut pernah ada pembahasan AFIS untuk e-KTP di rumah Setya Novanto karena ada pengaduan dari bekas bos PT Gunung Agung, Made Oka Masagung. Made Oka menuding Johannes Marliem untung besar karena pengadaan AFIS. "Ternyata aduan itu dari Charles Sutanto, ponakan Marliem yang awalnya ditinggal oleh Marliem," ujarnya.

    Baca juga: Alasan KPK Meminta Sidang Praperadilan Setya Novanto Ditunda

    Andi Narogong juga menyebutkan adanya pertemuan dengan Made Oka, Setya Novanto, dan Johannes Marliem, untuk membuka harga pengadaan AFIS e-KTP. "Seingat saya mengenai harga 0,3 sen dolar atau Rp 3.000 dijual 0,5 sen dolar, selisih masuk ke Quadras (PT Quadras Solution) dan masuk ke DPR," ujarnya.

    Andi pun menyebut Setya Novanto mengetahui adanya penggelembungan harga dalam proyek e-KTP. "Ya tahu waktu dijelaskan Marliem," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.