Pendiri HMI dan Malayati Tambah Daftar Pahlawan Nasional Jadi 173

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan kepada empat tokoh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, 9 November 2017. Gelar pahlawan ini diserahkan melalui ahli waris. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan kepada empat tokoh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, 9 November 2017. Gelar pahlawan ini diserahkan melalui ahli waris. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberikan gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh. Mereka adalah Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Riayat Syah, dan Lafran Pane. Pemberian gelar ditetapkan dalam keputusan presiden yang diterima ahli waris para tokoh.

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan keempat nama tersebut dipilih berdasarkan jasa dan tindakan kepahlawanan mereka. "Penyandang gelar Pahlawan Nasional bukan hanya mereka yang berjasa di medan perang saja, tapi juga mereka yang berjasa di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional," kata Khofifah, Kamis, 9 November 2017. Dengan tambahan empat tokoh, Indonesia sekarang memiliki 173 pahlawan nasional.

    Baca: Mengenal 4 Tokoh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

    Dari jumlah itu, hanya 13 orang di antaranya adalah perempuan. Menurut Khofifah, pemberian gelar untuk Laksamana Malahayati—tokoh perang perempuan asal Aceh—menjadi pengakuan untuk ketangguhan wanita dalam memperjuangkan negara. Laksamana Malahayati, yang berasal dari Aceh, pernah memimpin armada laut Indonesia berperang melawan Belanda dan berhasil menewaskan Cornelis De Houtman pada 1559. Selain itu, pada 1606, ia bersama Darmawangsa Tun Pangkat (Sultan Iskandar Muda) berhasil mengalahkan armada laut Portugis.

    Sementara itu, Lafran Pane adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 1947. Berasal dari Yogyakarta, ia dianggap patut diberi gelar pahlawan karena mendorong pertumbuhan gerakan pemuda di Indonesia. Lafran juga menentang pergantian ideologi Indonesia dari Pancasila menjadi komunisme pada era itu.

    Adapun TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, mendapatkan gelar karena mendirikan organisasi Islam Nahdlatul Wathan. Organisasi itu merupakan organisasi Islam terbesar di Lombok yang memberikan perhatian pada bidang pendidikan dan agama. Sedangkan Sultan Mahmud Riayat Syah, yang berasal dari Kepulauan Riau, berjasa di medan perang. Pada rentang 1782 hingga 1784, Sultan Mahmud berhasil mengalahkan Belanda, yang ingin menanamkan pengaruhnya di Riau dalam Perang Riau I.

    Baca: Laksamana Malahayati, Pahlawan Nasional Perempuan dari Aceh

    Upacara pemberian gelar Pahlawan Nasional digelar kemarin di Istana Kepresidenan. Setiap tahun, menjelang Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November, pemerintah memang menganugerahkan gelar kepahlawanan kepada figur sejarah. Para keturunan dan ahli waris pahlawan diundang untuk menerima penghargaan itu.

    Datuk Pocut Haslinda Syahrul, yang merupakan keturunan Laksamana Malahayati, berharap ketangguhan Malahayati dapat diteladani generasi muda. “Ia juga mengumpulkan ribuan anggota pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang gugur) untuk mengusir Portugis dari Selat Malaka," ujar Datuk Pocut.

    Hal senada disampaikan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md., atas pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Lafran Pane. Menurut Mahfud, pemberian gelar itu menegaskan peran HMI dalam melawan penjajahan.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.