Kabareskrim Mengaku Kesulitan Ungkap Kasus Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto saat menetapkan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka terkait kasus penistaan agama di Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, 16 November 2016. Polri meningkatkan kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan. TEMPO/Subekti.

    Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto saat menetapkan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka terkait kasus penistaan agama di Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta, 16 November 2016. Polri meningkatkan kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto mengatakan pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan terbilang sulit. Ari membantah bila disebut Polri tak mampu mengusut kasus tersebut hingga tuntas."Relatif sulit, bukan enggak bisa. Bisa saja,” kata Ari di Kanton Bareskrim, Jakarta, Rabu, 1 November 2017.  

    Ari Dono menjelaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan ini merupakan kasus dengan pola tabrak lari. Menurut dia, kasus dengan pola tabrak lari cukup sulit untuk diungkap.

    Ari Dono bercerita, kasus kasus tabrak lari ada yang empat tahun baru ketangkap pelakunya. “Puluhan saksi diminta keterangan tapi belum menunjukkan peristiwa itu terbuka," kata Ari Dono.

    Baca juga: 200 Hari Kasus Novel Baswedan, Bambang: Ini Masalah Politis

    Ari menilai untuk mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan yang mempunyai pola tabrak lari membutuhkan waktu yang lebih lama. Meskipun demikian, Ari menegaskan Polri terus menggali keterangan dari berbagai saksi untuk menemukan titik terang pelaku penyerangan kasus Novel Baswedan.

    "Sekian puluh saksi yang sudah dimintai keterangan tapi belum bisa menunjukkan satu peristiwa itu sehingga jalannya seperti ini, sehingga siapa yang kita harus mintai pertanggungjawaban, jadi sementara saksi-saksi ini setiap ada informasi pasti kita kejar," ujar Ari.

    Sebelumnya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Saut Situmorang mengatakan belum ada perkembangan signifikan dalam penyidikan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. “Sejauh ini belum ada perubahan yang signifikan,” ujarnya di gedung KPK, Senin, 30 Oktober 2017.

    Baca juga: TGPF Kasus Novel Baswedan Diminta Tidak Libatkan Polisi

    Di sisi lain, Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan penyidikan kasus penyerangan Novel oleh kepolisian terus berjalan dipimpin secara langsung oleh Kapolda Metro Jaya.

    Komunikasi informal antara pemimpin KPK dan Kepala Polri serta Kepala Polda Metro Jaya pun masih berlanjut. "Info terakhir tentang Novel, mereka menemukan beberapa clue, tetapi belum dipresentasikan," ucapnya.

    Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017. Ia diserang menggunakan air keras oleh dua orang tak dikenal setelah melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ikhsan dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kepolisian telah memeriksa puluhan saksi untuk menemukan pelakunya, tapi masih nihil. Polisi baru mampu membuat sketsa satu terduga pelaku. Meski sudah 200 hari berlalu, kepolisian tidak kunjung berhasil menemukan pelaku penyiraman tersebut.

    Novel Baswedan telah menjalani beberapa kali operasi untuk menyembuhkan matanya di Singapura. Seharusnya ia menjalani operasi besar tahap kedua pada mata kirinya. Namun operasi tersebut ditunda karena proses pemulihan belum merata.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.