KLHK: Status Siaga Darurat Bencana Asap Akan Berakhir

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Daops KSU Desa Petakbahandang, Katingan, Kalimantan Tengah.

    Daops KSU Desa Petakbahandang, Katingan, Kalimantan Tengah.

    INFO NASIONAL - Kejadian kebakaran hutan dan lahan sudah tidak terlalu banyak terjadi, status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di tujuh provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga akan berakhir masa berlakunya. 

    Untuk Provinsi Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Barat, sudah berakhir 30 September 2017 dan Provinsi Kalimantan Tengah berakhir sejak 14 Oktober 2017. Sementara, Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat, akan berakhir pada 31 Oktober 2017, Provinsi Riau dan Kalimantan Selatan akan berakhir akhir November 2017. 

    Berakhirnya status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan berarti mengurangi kewaspadaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Manggala Agni terus siap siaga menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Patroli rutin dan sosialisasi kepada masyarakat tidak akan berhenti dilakukan Manggala Agni, disamping melakukan pemantauan cuaca dan kondisi hotspot secara rutin setiap hari. 

    Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Raffles B. Panjaitan mengungkapkan Manggala Agni terus siaga di lapangan melakukan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah-wilayah rawan karhutla walaupun kejadian ini sudah menurun.

    “Patroli dan sosialisasi menjadi tugas yang melekat bagi Manggala Agni dalam kondisi apapun. Di saat Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan sudah berakhir pun nantinya, Manggala Agni akan tetap melakukan kegiatan tersebut. Ini agar setiap kejadian karhutla yang terpantau di lapangan dapat segera ditangani dan masyarakat di wilayah rawan juga semakin sadar untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran dalam membuka serta membersihkan lahan,” ujarnya. 

    Meskipun di beberapa wilayah sudah diguyur hujan, titik panas masih terpantau di beberapa wilayah di Indonesia. Masih ada juga laporan adanya kebakaran hutan dan lahan dalam luasan yang tidak terlalu besar dan dapat segera tertangani Manggala Agni. 

    Seperti kejadian karhutla yang terjadi di Kabupaten Katingan-Kalimantan Barat seluas sekitar satu hektare pada 17 Oktober 2017. Manggala Agni Daops Katingan Sebangau dapat segera memadamkan api dalam waktu kurang lebih dua jam. 

    Berdasarkan laporan Posko Dalkarhutla Kementerian Lingkungan Hidup pada Selasa, 17 Oktober 2017 pukul 20.00, terpantau 15 hotspot dengan satelit NOAA di seluruh wilayah Indonesia. Titik panas terpantau di Provinsi Kalimantan Barat (dua titik), Sumatera Selatan (tujuh titik), Kepulauan Seribu (satu titik), Bangka Belitung (empat titik), dan Lampung (satu titik). Sedangkan menurut Satelit TERRA AQUA (NASA) dengan confidence level 80 persen terpantau 10 hotspot dengan rincian Papua (lima titik), Kepulauan Seribu (satu titik), dan Nusa Tenggara Timur (empat titik). 

    Dengan demikian, berdasarkan satelit NOAA untuk periode 1 Januari-17 Oktober 2017, terdapat hotspot 2.425 titik di seluruh Indonesia. Sedangkan pada periode yang sama di 2016, jumlah hotspot tercatat 3.585 titik. Dibandingkan dengan tahun lalu, terdapat penurunan jumlah hotspot 1.160 titik atau sebesar 32,35 persen.

    Sementara, satelit TERRA-AQUA (NASA) dengan confidence level 80 persen mencatat, terdapat 1.942 hotspot. Jumlah ini menurun 1.707 titik atau 46,77 persen, jika dibandingkan dengan 2016 pada periode yang sama, yaitu sebanyak 3.649 titik. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.