Ketika Jokowi Berdialog dengan Para Simbah di Salatiga

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menunjukkan kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional disela peresmian di Jakarta, 14 September 2017. Presiden meminta Perpusnas mampu mengembangkan sistem digitalisasi, khususnya untuk meningkatkan minat baca kepada anak-anak generasi Y  dan generasi Z yang memiliki pola pikir dan perilaku jauh berbeda dengan generasi generasi sebelumnya. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo menunjukkan kartu keanggotaan Perpustakaan Nasional disela peresmian di Jakarta, 14 September 2017. Presiden meminta Perpusnas mampu mengembangkan sistem digitalisasi, khususnya untuk meningkatkan minat baca kepada anak-anak generasi Y dan generasi Z yang memiliki pola pikir dan perilaku jauh berbeda dengan generasi generasi sebelumnya. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, SALATIGA -- Presiden Joko Widodo berkunjung ke Salatiga, Jawa Tengah hari ini, Senin 25 September 2017. Selain meresmikan Tol Bawean-Salatiga, Presiden Jokowi juga membagikan Kartu Indonesia Pintar dan Program Keluarga Harapan di halaman SMAN 3 Salatiga. Di acara itu, Presiden Jokowi menyempatkan berdialog dengan dua perempuan lanjut usia.

    "Siapa yang umurnya 60 tahun ke atas," kata Presiden Jokowi kepada para penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang memenuhi lapangan SMAN 3 Salatiga.

    Siti Fatimah dan Mariam, yang mengaku berumur 63 tahun, maju ke panggung. Berbeda dari biasanya, Presiden Jokowi tidak menyampaikan pertanyaan kuis seperti biasa kepada mereka, hanya bertanya tentang apa yang mereka lakukan dengan bantuan dana yang mereka dapat dari PKH.

    "Ndamel tumbas ndeling, ndamel kandang (buat beli bambu buat kandang)," jawab Fatimah menggunakan Bahasa Jawa.

    BACA:Jokowi Akan Resmikan Tol Bawen-Salatiga dan Bertemu Petani Jateng

    "Dibuat apa lagi?" tanya Presiden Jokowi.

    "Ndamel tumbas uyah, moto (buat beli garam, ajinomoto/penyedap rasa)," kata Fatimah, disambut ketawa para hadirin.

    "Masa Rp 500 ribu hanya buat beli moto dan uyah," kata Presiden Jokowi, yang berasal dari Solo dan bisa berbahasa Jawa.

    "Uwos, nggih nopo-nopo...rasukan (beras, ya macam-macam kebutuhan... pakaian," jawab Fatimah.

    Presiden Jokowi kembali bertanya untuk apalagi, namun sang nenek terlihat bingung menjawab sehingga Presiden beralih bertanya kepada Mariam.

    Mariam mengatakan dia menggunakan dana bantuan PKH untuk membantu membeli kebutuhan sekolah cucu seperti sepatu dan seragam, serta kebutuhan sehari-hari lain.

    BACA: Cerita Jokowi Soal Lamanya Proyek Jalan Tol ... -

    "Ndamel tumbas (buat beli) telor, Supermi," jawabnya.

    Dan ketika Presiden memintanya menggunakan bantuan dana untuk menambah gizi, Mariam menjawab: "Lha putu kulo mboten purun daging (cucu saya enggak mau daging)." Para hadirin tertawa mendengar jawabannya.

    Setelah itu Presiden Jokowi menyuruh kedua nenek ini kembali ke tempat duduk mereka. Namun setelah duduk sebentar keduanya kembali ke panggung untuk meminta hadiah sepeda dari Presiden.

    Presiden Jokowi sempat menggoda dengan menanyakan apakah mereka masih bisa naik sepeda.

    Menanggapi pertanyaan Presiden Jokowi, Mariam mengatakan akan memberikan sepeda itu kepada cucunya. Sebelumnya Presiden juga memberikan sepeda kepada murid SD bernama Haidar yang berhasil menghafalkan Pancasila dan sempat mali mengambil hadiah sepedanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.