Jumlah TKI Ilegal ke Malaysia Tinggi, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Blitar – Malaysia banyak menarik minat tenaga kerja asal Indonesia, meski bukan menjadi negara terfavorit sebagai tempat tujuan bekerja. Kesamaan bahasa dan kebiasaan menjadi alasan utama dipilihnya negara ini. 

    Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Blitar Yudi Priyono mengatakan Malaysia banyak menjadi negara tujuan para pencari kerja di Blitar baik secara legal maupun ilegal. Sayang jumlah buruh migran yang menempuh jalur illegal ini diperkirakan lebih banyak karena alasan tertentu.

    “Kesamaan bahasa menjadi alasan utama mereka ke Malaysia,” kata Yudi kepada Tempo usai mengunjungi keluarga Suyanti, 37 tahun, TKW yang menjadi korban tenggelamnya kapal laut dari Malaysia, Selasa 8 September 2015.

    Kesamaan bahasa Malaysia dan Indonesia ini menjadi daya tarik tersendiri bagi TKI asal Indonesia untuk bekerja di sana. Ini terkait dengan lebih mudahnya upaya bagi calon TKI untuk tidak repot belajar bahasa asing seperti negara lain seperti Taiwan, Singapura, atau Jepang ke Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). 

    Menurut Yudi, kendala bahasa menjadi momok utama bagi calon tenaga kerja. Bahkan untuk mempelajari bahasa asing di negara tujuan ini para calon TKI bisa belajar selama berbulan-bulan pada PJTKI. “Karena Malaysia serumpun dan bahasanya hampir sama, banyak TKI yang berangkat kesana tanpa melalui PJTKI alias illegal,” kata Yudi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.