Diserang di Media Sosial, JK: Tidak Saya Baca  

Senin, 15 Mei 2017 | 13:23 WIB
Diserang di Media Sosial, JK: Tidak Saya Baca  
Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla berpidato dalam pertemuan Leaders' Summit on Peacekeeping dalam rangkaian Sidang Umum PBB di Manhattan, New York, 28 September 2015. Wapres JK menjadi perwakilan Indonesia dalam pertemuan internasional ini. REUTERS/Andrew Kelly

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengaku sudah mendengar soal dirinya "diserang" atau dituduh rasis di berbagai media sosial. Menanggapi hal itu, ia menyatakan merasa tidak diserang. "Saya tidak pernah baca apa yang ada di media sosial. Jadi saya tidak merasa diserang," ujar JK setelah merayakan ulang tahunnya ke-75, Senin, 15 Mei 2017.

Seperti diketahui, sejumlah serangan atau kabar bohong soal JK beredar di media sosial seusai pilkada DKI Jakarta. Salah satunya adalah kabar bohong perihal dia mengimbau publik tidak mengirim bunga ke pasangan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat karena tak bermanfaat.

Baca juga:
Saran Kalla ke Sandiaga: Kamu Harus Belajar Hormat

Contoh serangan yang lain adalah kabar dirinya mengatur vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Pengadilan Negeri Jakarta Utara kepada Ahok perihal kasus penistaan agama. Serangan itu berbentuk gambar JK bertemu dengan Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali.

Adapun serangan terakhir adalah beredarnya berita JK yang mengkaitkan kesenjangan ekonomi dengan faktor ras (pribumi dan keturunan Cina). Hal itu membuat JK dituduh rasis di sejumlah media sosial.

Baca pula:
Wakil Presiden Jusuf Kalla Rayakan Ulang Tahun Ke-75

JK berujar isu yang ia hadapi sekarang sudah biasa terjadi. Karena itu, dia tak kaget ataupun peduli dengan serangan terhadapnya di media sosial. Lagipula, pada kenyataannya, ia dekat dengan pengusaha atau pekerja dari ras mana pun, tak terkecuali keturunan Cina.

"Teman dekat saya kan keturunan Cina juga, itu Sofjan Wanandi. Dia kan dari pagi, sore, hingga malam sama saya," ucapnya.

ISTMAN M.P.

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan