Bawa Pesan Megawati, Djarot Jenguk Hasyim Muzadi  

Jum'at, 10 Maret 2017 | 20:16 WIB
Bawa Pesan Megawati, Djarot Jenguk Hasyim Muzadi   
Hasyim Muzadi. TEMPO/Fransiskus S

TEMPO.CO, Malang -- Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat menjenguk Kiai Haji Hasyim Muzadi, pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Jawa Timur, Jumat, 10 Maret 2017.  "Bersilaturahim, bertemu dengan Kiai Hasyim dan keluarga," kata Djarot saat keluar dari rumah Hasyim Muzadi di Jalan Candi Kidal 21, Kota Malang.

Menurut Djarot, kondisi Hasyim Muzadi memang sakit. Kesehatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini, kata Djarot, menurun setelah mengikuti istigasah di Malang. "Sekarang, Alhamdulillah, kondisinya stabil," kata Djarot.

Baca juga:
Kesehatan Membaik, Hasyim Muzadi Beri Wejangan ke Penjenguk

Djarot melanjutkan, saat ditemui Kiai Hasyim tengah istirahat. Djarot menyampaikan pesan pesan dan salam dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. "Salam dari Ibu Mega, karena masih belum sempat membesuk," ujar Djarot.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga pernah membesuk Hasyim Muzadi yang tengah dirawat di Rumah Sakit Lavalette, Kota Malang, Senin, 16 Januari 2017. Mengenakan  batik cokelat berpeci hitam dan bercelana hitam, Jusuf Kalla bertemu Hasyim Muzadi selama 10 menit di ruang perawatan Sapire VIP Nomor 6.

Baca:
Kesehatan Mulai Pulih, Hasyim Muzadi Makan Rawon dan Lodeh  

Jusuf Kalla didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Kunjungan ini dilakukan setelah Wakil Presiden melakukan kunjungan kerja di Tulungagung. Kunjungan dilakukan tertutup dengan pengamanan ketat. Jurnalis pun dilarang mendekat. 

Abdul Hakim, putra sulung Hasyim Muzadi, menyatakan kunjungan Jusuf Kalla sekaligus memberikan suntikan semangat. Selama pertemuan beberapa menit itu, keduanya saling mendoakan untuk kesehatan masing-masing. “Sempat bergurau, saling mendoakan kesehatan masing-masing,” katanya.

EKO WIDIANTO

Video Terkait: KH Hasyim Muzadi: Ulama, Dosen, Politisi

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan