Gerakan Pemuda Ini Mendukung Pemerintah Naikkan Cukai Rokok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pelajar dari berbagai kalangan, melakukan aksi longmarch memperingati hari anti tembakau sedunia di Kawasan Mattoangin, Makassar, 31 Mei 2015. Para pelajar mengkampanyekan anti rokok, dan mensosialisasikan bahaya yang ditimbulkan dari asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif. TEMPO/Fahmi Ali

    Sejumlah pelajar dari berbagai kalangan, melakukan aksi longmarch memperingati hari anti tembakau sedunia di Kawasan Mattoangin, Makassar, 31 Mei 2015. Para pelajar mengkampanyekan anti rokok, dan mensosialisasikan bahaya yang ditimbulkan dari asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Gerakan Muda Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) Margianta SJD mendukung usulan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok pada 2018. Alasannya, cukainya perlu dinaikkan guna melindungi generasi muda dari ketergantungan zat yang terkandung dalam rokok.

    “Rencana pemerintah untuk memperhitungkan kenaikkan cukai rokok di tahun 2018 patut didukung. Selain akan meningkatkan pemasukan negara, kenaikan cukai rokok juga berimbas pada naiknya harga rokok,” kata Margianta, Jumat, 15 September 2017.

    Baca: Hasil Riset: Bahaya Rokok Bagi Anak Muda Bikin Otak Kurang Aktif

    Gerakan Muda FCTC yakin hal tersebut akan mengurangi kebiasaan masyarakat membeli rokok, khususnya generasi muda. Jika harga rokok terlalu murah, kata Margianta, membuat generasi muda gampang mengakses rokok.

    Sebelumnya, pemerintah berencana menaikan tarif cukai rokok mencapai 8,9 persen. Kenaikan ini akan diumumkan oleh Kementerian Keuangan pada September 2017 ini.

    Menurut Gerakan FCTC, situasi saat ini menggambarkan betapa terancamnya agenda pembangunan nasional jika generasi mudanya terus tergantung pada rokok. Dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional 2010, perokok berumur 10-14 tahun bertambah menjadi 3,96 juta atau 10.869 perokok baru tiap harinya. Di tahun yang sama, masih dalam survei ditemukan perokok muda berusia 15-19 tahun terus meningkat jumlahnya 3 kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun.

    Baca: Sandiaga Ajak Warga Jakarta Lawan Raksasa Industri Rokok

    “Bonus demografi Indonesia pada 2045 hanya akan menjadi beban demografi bila generasi muda sakit-sakitan karena rokok,” kata Margianta sembari menambahkan bahwa cukai rokok harus dipahami sebagai instrumen pengendalian, bukan semata-mata pendapatan negara.

    “Menggantungkan masa depan generasi muda dan pembangunan nasional kepada produk berbahaya seperti rokok tentu bertentangan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang ingin dicapai Indonesia pada 2030," kata Margianta.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.