17 Agustus, Ada Sekolah Gratis Calon Programmer di Yogyakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wanita 29 tahun yang merupakan pembuat aplikasi Go-Jek, Alamanda Shantika Santoso saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 10 Agustus 2017. Alamanda keluar dari Go-Jek guna mewujudkan mimpinya untuk bangun sekolah dan menjadi Menteri. TEMPO/Tony Hartawan

    Wanita 29 tahun yang merupakan pembuat aplikasi Go-Jek, Alamanda Shantika Santoso saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 10 Agustus 2017. Alamanda keluar dari Go-Jek guna mewujudkan mimpinya untuk bangun sekolah dan menjadi Menteri. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Di Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72, Tempo memilih sejumlah tokoh muda yang berkiprah di berbagai bidang. Alamanda Shantika, 29 tahun, adalah salah satunya. Perempuan yang pernah menjabat Vice President of Technology Product Go-Jek ini memilih jalan sendiri dengan mencetak programmer melalui sekolah Binar. Baca: Tokoh 17 Agustus: Dulu Hobi Kini Rezeki di Tim Balap F1

    Pada Maret 2017, Alamanda atau biasa disapa Ala mendirikan Binar, sebuah sekolah programming di Jalan Damai Nomor 89, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika sekolah programmer biasanya mematok tarif sampai jutaan, Binar menawarkan kursus bagi yang berminat secara cuma-cuma alias gratis.

    Alamanda mengatakan Binar bertujuan menetaskan programmer andal. Menurut dia, Indonesia saat ini kekurangan programmer. Alamanda mencontohkan, pada 2014 saat bekerja di Go-Jek, dia kesulitan mencari programmer untuk iOS—sistem operasi Apple. "Waktu saya bangun Go-Jek, nyari iOS engineer langka banget. Sampai harus ajarin lagi selama dua bulan," kata Ala, sapaan Alamanda.

    Keluar dari Go-Jek, ia pun mendirikan Binar dari koceknya sendiri. Kota Pelajar dipilih Ala agar pendidikan teknologi informasi dapat dirasakan di daerah. "Supaya enggak semua berpusat di Jakarta. Kami ingin gedein startup di kota lain, dan imbasnya ekonomi daerah meningkat," ujar perempuan yang bercita-cita menjadi menteri pendidikan, ini. Baca juga: Tokoh 17 Agustus: Shinatria, Arkeolog Penemu Kapal Selam Nazi

    Angkatan pertama, dari 600 pelamar, sebanyak 60 orang lolos seleksi logika dan dapat beasiswa untuk belajar cuma-cuma. Setelah lulus, headhunter yang dikelola lembaga itu akan mempertemukan mereka dengan startup yang sedang mencari programmer. "Di situ saya cari uang. Kami charge 20 persen dari gaji mereka ke startup. Kalau pendidikannya enggak," kata Ala.

    Seorang murid Binar, Bernadetta Dyani Kusumadewi, 26 tahun, sudah bekerja di Oy! Indonesia—salah satu partner Binar dalam headhunter dan pengembangan talenta pekerja. Dyani bekerja di sana sebagai quality assurance sejak awal Juli lalu. "Setelah bekerja, saya masih bisa belajar di Binar," ujar lulusan pendidikan bahasa Inggris Sanata Darma, Yogyakarta, ini.

    Ala menargetkan, selama setahun ke depan, Binar mampu melatih setidaknya 2.000 calon programmer. Dia ingin Binar ada di seluruh wilayah Indonesia agar pendidikan teknologi dapat dirasakan semua orang. "Sekarang perkembangan sudah cepat. Kita sudah ketinggalan, apalagi menghadapi 2045. Jadi semua harus dipersiapkan," katanya.

    Pengamat teknologi informasi Onno W. Purbo membenarkan Indonesia kekurangan programmer. Menurut dia, hal itu terjadi karena kebanyakan dosen mengajar teori, bukan praktik. "Harusnya pemerintah merangkul lembaga seperti Binar untuk mengubah kurikulum. Yang dilakukan Binar ini 'gila'," katanya. Artikel lainnya: Tokoh 17 Agustus, Gamer Muhammad Rizky: Jangan Lupakan Sekolah

    DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.