Respon Jokowi Atas Ramainya Kasus Pidana karena Ujaran di Medsos

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keriuhan tawa kembali terjadi saat salah satu mahasiswa peserta kongres yang berhasil menjawab pertanyaan Jokowi lantas menanyakan apakah akan mendapat sepeda. HAND WAHYU

    Keriuhan tawa kembali terjadi saat salah satu mahasiswa peserta kongres yang berhasil menjawab pertanyaan Jokowi lantas menanyakan apakah akan mendapat sepeda. HAND WAHYU

    TEMPO.CO, Jakarta - Ramainya kasus pidana karena ujaran di media sosial direspon oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Kepada publik, ia meminta warga untuk berhati-hati menggunakan media sosial karena ujaran yang salah bisa berujung pada perkara pidana. 

    "Hati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama bagi remaja. Hati-hati membuat status, dicek dulu apakah menyinggung orang lain atau tidak," ujar Presiden Joko Widodo saat membuka Pasanggirinas dan Kejurnas Silat ASAD 2017 yang dilangsungkan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Selasa, 8 Agustus 2017
    Baca :
    Pemerintah Ingin Facebook Perbaiki Standar Layanan

    Aksi Kamisan ke-501, Tuntut Presiden Jokowi Buktikan Cuitannya

    Sebagaimana diketahui, saat ini ada dua perkara yang tengah ramai dibicarakan dan berkaitan dengan penggunaan media sosial. Salah satunya adalah penghinaan Presiden Joko Widodo yang dilakukan perempuan bernama Sri Rahayu asal Cipendawa, Cianjur, Jawa Barat.

    Sri Rahayu, yang sudah ditangkap oleh Kepolisian, ketahuan menyebarkan berbagai konten yang menghina Presiden Joko Widodo, lambang negara, partai politik, dan organisasi kemasyarakatan lewat Facebook. Hal itu membuatnya dijerat dengan Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU ITE dan atau Pasal 16 juncto Pasal 4 (b)1 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

    Perkara yang lain adalah kasus pencemaran nama baik yang dituduhkan kepada komika Muhadkly alias Acho. Acho yang mengkritik kebijakan Apartemen Green Pramuka, dianggap telah mencemarkan nama baik pengembang apartemen di kawasan Jakarta Timur itu.

    Presiden tak secara spesifik menyebut kasus tertentu dalam responnya. Namun, ia menegaskan bahwa segala ucapan di media sosial, internet, harus diperhitungkan dahulu sebelum diunggah. Dengan begitu, tidak berujung pada pelaporan ke aparat penegak hukum.

    Simak juga : Kasus Acho Dijerat UU ITE, Tagar #AchoGakSalah Jadi Trending

    "Apalagi jika niatnya memang ingin langsung mencela, mencemooh, menjelekkan orang, itu selalu saya sampaikan agar jangan dilakukan," ujar Presiden Joko Widodo menegaskan.

    Menurut Jokowi, publik sebaiknya menggunakan media sosial dengan sebaik mungkin, sebijak mungkin. Lagipula, kata dia, warga Indonesia terkenal akan kesantunan dan kesopanannya jadi hal itu pun harus ditunjukkan di dunia maya ataupun media sosial sekalipun.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.