Novel Baswedan Sudah Tahu Diintai, Pelakunya...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Novel Baswedan mendapat kunjungan setelah terkena siraman air keras oleh seseorang di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta, 11 April 2017. Tempo/Budi Setiyarso

    Novel Baswedan mendapat kunjungan setelah terkena siraman air keras oleh seseorang di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta, 11 April 2017. Tempo/Budi Setiyarso

    TEMPO.CO, JakartaNovel Baswedan, telah menyadari dirinya diintai sebelum kejadian penyiraman air keras yang dialaminya pada 11 April 2017. Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi itu bahkan pernah menjebak orang yang mengikutinya.

    "Saya tahu saya diintai. Bahkan, menurut info yang saya dengar, pengintai saya adalah polisi. Saya dengar informasi itu, tapi tak punya buktinya. Saya tahu saya diikuti. Setiap ke kantor, saya diikuti, dilacak. Saya ini penyidik. Kalau penyidik tak tahu diikuti, keterlaluan," kata Novel dikutip dari wawancara eksklusif Majalah Tempo edisi 12-18 Juni 2017.

    BACA: Eksklusif Video Penyerangan Novel, Detik-detik Teror Subuh Itu 

    Novel sempat menjepak orang yang mengikuti. "Sekali waktu saya pojokkan orang itu di posisi tertentu, kemudian orang itu terjebak," tuturnya. Ketika ditanya kapan kejadian itu, Novel tak ingat, "Persisnya saya lupa, tak berselang lama dari kejadian penyiraman."

    Sebelum penyiraman air keras yang dialaminya, Novel mengungkapkan bahwa telepon selulernya dicoba diakses pihak lain. "Muncul tiba-tiba notifikasi yang tak lazim, kira-kira sepekan sebelum saya disiram. Istri saya juga mendapat hal yang sama. Teman-teman kantor juga. Bahkan beberapa teman di luar kantor yang berkomunikasi dengan saya. Saya juga paham teknologi informasi. Saya coba buka dan saya lihat ternyata ada device lain yang mencoba mengakses," ia menjelaskan.

    BACA: Wawancara Novel Baswedan: Saya Tunggu Janji Kapolri

    Sejak itu, kata Novel, dia tahu ada orang yang sedang mengerjainya. "Cuma, pasti yang mengakses bakal pusing. Handphone saya isinya tausiah. Tapi semoga mereka mendapat hidayah. Orang-orang seperti itu kan harus mendapatkan hikmah," kata dia.

    Menurut Novel, orang yang berusaha mengakses handphonenya bukan orang sembarangan. "Pelakunya bukan sembarangan. Mereka ingin profiling saya dengan sungguh-sunggu, dengan alat sadap, dan mereka punya jaringan," ucapnya.

    Meski sadar diintai, Novel Baswedan, tidak meminta pengawalan. Bahkan, ia menolak ketika Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya M. Iriawan. "Saya bilang, siapa sih yang mengancam? Enggak jelas. Jadi saya bilang, kalau masih belum terlalu jelas, kalaupun saya dikawal, itu harus perintah dari pimpinan KPK. Sebab, saya enggak mau bergerak orang per orang. Saya mau gerakannya secara kelembagaan. Saya enggak tahu lagi komunikasi Kapolda dengan pimpinan KPK setelah itu," kata Novel.

    BACA: Ini Daftar Kasus Besar yang Ditangani Novel Baswedan

    Terkait adanya pengintaian yang dialaminya, Novel Baswedan telah menyampaikan ke pimpinan KPK. "Tapi, ketika pimpinan bertanya kepada saya, seserius apa ancaman itu, saya enggak tahu. Ancaman seperti itu kan enggak bisa diprediksi, kecuali memang ada bidang khusus yang melakukan tugas itu," tuturnya.

    Menurut Novel Baswedan,, apabila dirinya mendapatkan pengawalan, peristiwa penyiraman air keras yang dialaminya juga belum tentu bisa dicegah. "Pengawalan itu tidak mungkin 24 jam. Meski dikawal, pasti ada saat lengah. Saya tak melihat korelasinya. Ini sudah ada takdirnya. Sebagai antisipasi, iya, tapi semua karena Allah."

    TIM TEMPO




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.