Soal Nama Ganda, DPRD Minta Sultan HB X Ubah Gelar di Website

Reporter

Sri Sultan Hamengkubuwono X (tengah), berikan sambutan atas logo baru Jogja istimewa di kompleks kantor Gubernur DI. Yogyakarta, 5 Februari 2015. Logo baru Jogja, digagas oleh tim 11 yang berisi relawan, akademisi dan budayawan. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Yogyakarta - Panitia Khusus Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta meminta tak ada lagi penggunaan nama ‘Bawono’ untuk pencantuman nama gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam urusan internal maupun eksternal keraton.

Pansus meminta masalah nama ganda Ngarsa Dalem itu segera dituntaskan agar proses penetapan Sultan Hamengku Buwono X sebagai gubernur sesuai ketentuan Undang-Undang Keistimewaan DIY Nomor 13 tahun 2012 serta agar tidak menjadi polemik berkepanjangan.

Baca: Sultan HB X: Klarifikasi Gelar Tak Berkaitan Penetapan Gubernur

"Kalau menganut UU Keistimewaan sepenuhnya, seharusnya nama gelar Sultan juga tunggal, baik yang di website keraton atau undangan-undangan seperti jumenengan," ujar Wakil Ketua Pansus Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY Arif Noor Hartanto, Rabu, 26 Juli 2017.

Sejak Sultan HB X mengeluarkan sabda raja atau perintah raja pada 2015 silam, publik dihadapkan pada dua nama gelar untuk Sultan, yaitu Hamengku Buwono X dan Hamengku Bawono Kaping 10.

Dalam situs resmi Keraton yang beralamatkan http://kratonjogja.id, Sultan disebut dengan gelar Hamengku Bawono Ka 10. Namun ketika pihak keraton menyerahkan berkas pencalonan untuk penetapan Sultan sebagai gubernur pada 14 Juli 2017  kepada DPRD DIY, gelar nama Sultan kembali seperti saat penobatan sebagai raja pada 1989 silam, yakni Hamengku Buwono X. "Gelar nama yang disebut dalam UU Keistimewaan untuk Sultan sifatnya tunggal, tidak bisa dua nama begini," ujar Arif.

Simak: Nama Raja Yogya Dipersoalkan, Hamengku Buwono Atau Bawono

Menurut Arif, sekalipun Pansus DPRD dalam proses penetapan gubernur itu melakukannya tanpa memperjelas soal nama ganda Sultan, publik tak akan bisa menggugat hasilnya. "Yang dihasilkan pansus lalu di bawa ke paripurna kan bukanlah produk final, yang final hanya Surat Keputusan Presiden untuk penetapan itu," ujar Arif yang juga Wakil Ketua DPRD DIY itu.

Meski diwarnai perdebatan soal nama ganda Sultan, Pansus DPRD DIY sendiri telah mengesahkan berita acara verifikasi syarat pencalonan Sultan sebagai gubernur untuk periode 2017-2022. Sultan HB X juga telah ditetapkan sebagai calon gubernur bersama Sri Paduka Paku Alam X sebagai calon wakil gubernur periode selanjutnya.

"Kami minta keraton konsisten menggunakan nama gelar yang diserahkan pada DPRD sebagai syarat pencalonan, bukan nama dari Sabda Raja lagi," ujar Arif.

Lihat: Pengisian Jabatan Gubernur DIY, DPRD Tolak Akui Sabda Raja

Hamengku Buwono X ketika dua kali dikonfirmasi ihwal penegasan nama gelar yang dituntut DPRD enggan berkomentar banyak. "Ora urusan (tidak urusan) soal (nama gelar) itu, kan itu tidak masuk dalam verifikasi," ujar Sultan.

Pihak Kawedanan Hageng Panitropuro Keraton yang mengurusi persyaratan pencalonan Sultan, Kanjeng Pangeran Hario Yudahadingrat menuturkan soal nama gelar Sultan pihaknya tak berwenang mengklarifikasi. "Silakan DPRD menanyakan sendiri kepada beliau (Sultan)," ujar Yudahadiningrat.

PRIBADI WICAKSONO






Alasan Sultan HB X Ingin Penanaman Kopi Gencar di Lereng Merapi

1 hari lalu

Alasan Sultan HB X Ingin Penanaman Kopi Gencar di Lereng Merapi

Sultan Hamengku Buwono X menuturkan ada beberapa faktor positif jika aktivitas menanam kopi di lereng Merapi jadi prioritas.


Bukan di Alun-Alun Utara Keraton, Sekaten Buatan Warga Tetap Dibanjiri Pelaku Usaha

23 hari lalu

Bukan di Alun-Alun Utara Keraton, Sekaten Buatan Warga Tetap Dibanjiri Pelaku Usaha

Event ini, kata Widihasto, diharapkan dapat menjawab kerinduan masyarakat terhadap gelaran Pasar Malam Perayaan Sekaten.


Sapa Aruh, Sultan Hamengku Buwono X Beberkan Konsep Pengembangan Wisata Lewat Dana Keistimewaan

26 hari lalu

Sapa Aruh, Sultan Hamengku Buwono X Beberkan Konsep Pengembangan Wisata Lewat Dana Keistimewaan

Sultan HB X mengisyaratkan pemakaian Dana Keistimewaan yang bersumber dari APBN salah satunya bisa untuk membantu pengembangan wisata suatu daerah.


Sekaten Tahun Ini Ada Lagi, Tapi Bukan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta

26 hari lalu

Sekaten Tahun Ini Ada Lagi, Tapi Bukan di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta

Meski berlokasi berbeda, Widihasto mengatakan Pasar Rakyat Jogja Gumregah ini mengusung spirit seperti halnya sekaten.


Konser Kamardikan Digelar, Saat Masyarakat Bisa Kembali Kunjungi Agenda Keraton Yogyakarta

28 hari lalu

Konser Kamardikan Digelar, Saat Masyarakat Bisa Kembali Kunjungi Agenda Keraton Yogyakarta

Sebanyak 750 pengunjung dihibur dengan penampilan apik konser yang diinisiasi divisi kesenian atau Kawedanan Kridhomardowo Keraton Yogyakarta itu.


Keraton Yogyakarta Kini Miliki Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata dan Seni Budaya

28 hari lalu

Keraton Yogyakarta Kini Miliki Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata dan Seni Budaya

Lembaga sertifikasi profesi Keraton Yogyakarta ini tidak hanya untuk abdi dalem Keraton saja, namun juga bisa dimanfaatkan masyarakat luas.


Wisata ke Istana Para Raja, 5 Keraton di Pulau Jawa

30 hari lalu

Wisata ke Istana Para Raja, 5 Keraton di Pulau Jawa

Salah satu destinasi wisata sejarah yang dapat Anda kunjungi di Pulau Jawa adalah keraton. Berikut 5 keraton untuk wisata sejarah.


Jogja Fashion Week 2022 Digelar 5 Hari, Libatkan 100 UKM Fashion dan 79 Desainer Yogya

31 hari lalu

Jogja Fashion Week 2022 Digelar 5 Hari, Libatkan 100 UKM Fashion dan 79 Desainer Yogya

Jogja Fashion Week ditujukan untuk mendorong berkembangnya sektor industri kreatif dan produk kreatif khususnya produk busana.


Libur Akhir Pekan Ini di Yogya, Jangan Lewatkan Dua Hari Parade Gamelan Nusantara

32 hari lalu

Libur Akhir Pekan Ini di Yogya, Jangan Lewatkan Dua Hari Parade Gamelan Nusantara

Parade gamelan Nusantara ini akan diikuti 50 seniman karawitan dan bakal berkeliling ke sejumlah titik di wilayah Kulon Progo.


UNESCO Mulai Nilai Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

32 hari lalu

UNESCO Mulai Nilai Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Sumbu filosofi Yogyakarta merupakan garis imajiner atau arus jalan yang menghubungkan antara titik Panggung Krapyak dan Tugu Yogyakarta.