Penjelasan Kapolri: Mengapa Polisi Dianggap Kafir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Tito Karnavian berkunjung ke  Sulawesi Tenggara dalam rangka memberikan pengarahan pada personil Kepolisian Daerah Sultra Kamis 23 Februari 2017. TEMPO/ ROSNIAWANTY FIKR

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian berkunjung ke Sulawesi Tenggara dalam rangka memberikan pengarahan pada personil Kepolisian Daerah Sultra Kamis 23 Februari 2017. TEMPO/ ROSNIAWANTY FIKR

    TEMPO.CO, Jakarta -  Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku sudah lama polisi menjadi sasaran utama kelompok teroris di Indonesia. Meski tak heran, Jenderal Tito tetap merasa prihatin dengan serangan itu. .

    "Seperti yang berkali-kali saya sampaikan, polisi dianggap kafir. Jadi, harus diprioritaskan (oleh teroris)," kata Tito di tengah acara halal bihalal di Istana Kepresidenan, Minggu , 25 Juni 2017.

    Menurut Tito, teroris menganggap polisi kafir yang harus diperangi karena dianggap melawan Allah dan Rasulullah dengan berbuat makar di dunia. Teroris, kata dia, menganggap Indonesia adalah negara yang "thoghut" atau menyembah selain Allah.

    Tito mengatakan, agenda teroris di Indonesia yakni menegakkan Indonesia sebagaimana ideologi mereka, yakni negara khilafah.
    Orang-orang dengan paham seperti itu mengkategorikan kafir menjadi dua bagian. Pertama, ada kafir yang memusuhi mereka secara aktif sehingga harus dilawan.

    Kedua, ada kafir yang tidak aktif menyerang, namun suatu saat akan ditundukkan."Polisi yang karena tugasnya menegakkan hukum dan memberantas teroris berada di garis terdepan, maka harus diserang pertama," kata Tito.

    Kapolri menyebut, penyerang polisi di Polda Sumatera Utara adalah sel dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD)."Ini disinyalir masih ada sel dari kelompok JAD yang punya inten, yang niat melakukan serangan di sana," kata Tito.

    Jaringan yang disebut Tito menyerang polisi dengan modus yang sudah dikategorikan nekad. Dua dari mereka melompat pagar dan masuk ke dalam pos jaga 3 Markas Polda Sumatera Utara, pada hari-hari polisi sibuk bersiaga mudik Lebaran 2017.

    Ajun Inspektur Satu Polisi Martua Sialingging, anggota Satuan Pelayanan Markas Polda Sumatera Utara, tewas ditikam komplotan itu. Seorang dari penyerang Sigalingging, juga mati di tempat, setelah ditembak anggota Satuan Brigade Mobil Polda Sumatera Utara, yang sedang piket di sana.

    Kapolri mengaku sebelumnya sudah ada tiga terduga teroris yang ditangkap dan kedua pelaku tersebut merupakan sisa sel yang tersisa. "Mudah-mudahaan kekuatannya tidak terlalu besar," kata dia.
    Atas penyerangan itu, Kapolri memerintahkan semua jajarannya, baik kesatuan maupun pribadi, untuk memperkuat pengamanan masing-masing.

    "Perkuat pengamanan masing-masing satuan di kantor atau pribadi masing-masing," ujar Tito. Terakhir, Tito menyampaikan bahwa Kepolisian akan terus mengembangkan temuan mereka soal serangan ke Mapolda Sumut.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.