Marak ISIS dan HTI, Sebagian Masyarakat Khawatir NKRI Bubar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan massa GP Ansor dan Satkorwil Banser Kaltim saat melakukan aksi demonstrasi menuntut dibubarkannya HTI, di Simpang empat mal lembuswana, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 23 April 2017. Tempo/Sapri Maulana

    Ratusan massa GP Ansor dan Satkorwil Banser Kaltim saat melakukan aksi demonstrasi menuntut dibubarkannya HTI, di Simpang empat mal lembuswana, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 23 April 2017. Tempo/Sapri Maulana

    TEMPO.CO, Jakarta - Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan banyaknya masyarakat Indonesia merasa cemas dengan pergerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka mengkhawatirkan Indonesia saat ini tengah melemah.

    Pendiri SMRC Saiful Mujani mengatakan sekitar 13 persen masyarakat meyakini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersandar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 saat ini telah melemah dan terancam bubar.

    Menurut dia, kecemasan masyarakat itu merupakan respons atas situasi Indonesia saat ini yang marak dengan pergerakan kelompok ISIS dan HTI, yang mengusung gagasan khilafah dan membentuk negara Islam.

    Baca: Survei SMRC: Mayoritas Masyarakat Tolak ISIS, HTI dan Khilafah

    "Mereka melihat berbagai pengalaman di dunia saat ini," kata Saiful saat menyampaikan hasil surveinya di Jalan Cisadane Nomor 8, Cikini, Jakarta, Ahad, 4 Juni 2017.

    "Makanya orang sekarang di media sosial ramai membuat slogan 'Saya Indonesia, Saya Pancasila' itu tanda kecemasan," ujarnya.

    Ia mengatakan 89,3 persen dari masyarakat yang setuju NKRI melemah dan terancam bubar menyatakan hal ini adalah masalah besar. Sedangkan hanya 5,7 persen yang menyatakan sebaliknya.

    Saiful menambahkan, 75 persen warga yang menyatakan Indonesia dalam masalah besar juga khawatir akan terjadinya perang saudara. "Bisa saja terjadi seperti di Irak, Suriah, dan bekas pecahan Yugoslavia," ucapnya.

    Menurut survei itu, masyarakat menilai melemahnya NKRI, sebagian besar dipengaruhi oleh lima faktor, yakni ancaman dari paham-paham agama tertentu (39,4 persen), pemerintahan yang buruk (19,4 persen), kalangan elit di Jakarta yang memperhatikan kepentingan pribadi (16,8 persen), ketimpangan antara kaya dan miskin (9,4 persen), dan ketimpangan antar-daerah (5,3 persen).

    Baca juga: Ini Temuan Kemendagri Soal Strategi dan Metode HTI Tebar Pengaruh

    Saiful menjelaskan, masyarakat Indonesia banyak yang sadar dan tahu tentang ISIS dan HTI serta tujuannya membentuk negara Islam. Namun bagaimana pun kondisi bangsa saat ini, mayoritas masyarakat menyatakan menolak ISIS.

    Ia mencontohkan 14,6 persen warga menilai Indonesia tidak bergerak ke jalur yang benar. Namun 91,5 persen dari mereka tetap tidak setuju dengan ISIS.

    Begitu pula bila dikaitkan dengan sikap masyarakat terhadap demokrasi. "Masyarakat yang pro demokrasi sebesar 74 persen dan penentang demokrasi sebesar 14,5 persen. Keduanya sama-sama menolak ISIS," tuturnya.

    Hal yang sama juga berlaku pada tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut dia, masyarakat yang puas dengan kinerja Jokowi sebesar 66,9 persen dan mereka yang tidak puas sebesar 30,7 persen. Keduanya juga menolak ISIS.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.