Anggota Satpol PP Pembunuh Polisi di Makassar Divonis 4 Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bercak darah dan kendaraan yang rusak akibat aksi pengrusakan kantor Balai Kota Makassar, 7 Agustus 2016. Akibat bentrokan antara anggota polisi dan Satpol PP ini, satu orang polisi tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka. TEMPO/Fahmi Ali

    Bercak darah dan kendaraan yang rusak akibat aksi pengrusakan kantor Balai Kota Makassar, 7 Agustus 2016. Akibat bentrokan antara anggota polisi dan Satpol PP ini, satu orang polisi tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Makassar--Majelis hakim Pengadilan Negeri Makassar menjatuhkan vonis bersalah kepada terdakwa anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar, Jusman, terkait kasus pembunuhan anggota Sabhara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Brigadir Dua Michael Abraham.

    Ketua majelis hakim Cening Budiana didampingi dua anggotanya Rika Mona dan Budiansyah dalam amar putusannya menyatakan bahwa Jusman bersalah melanggar Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan sehingga dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun.  "Terdakwa  terbukti bersalah melakukan pembunuhan," kata Cening Budiana, Selasa 30 Mei 2017.

    Baca: Polisi-Satpol PP Bentrok di Makassar, Satu Tewas

    Menurut dia Jusman  melakukan penikaman terhadap Michael hingga berujung pada kematian. Terdakwa , ujar Cening, juga telah mengakui perbuatannya saat terjadi bentrok antar Polisi versus Satpol PP di Balai Kota Makassar.

    Michael tewas  oleh tikaman badik Jusman usai melakukan penyerangan bersama puluhan rekannya ke kantor Balai Kota Makassar, Minggu dinihari 7 Agustus 2016.

    Simak: Bunuh Polisi, Anggota Satpol PP Pemkot Makassar Diadili

    Vonis yang dijatuhkan hakim terhadap kasus pembunuhan ini lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa, yakni pidana penjara selama 5 tahun. Pertimbangan hakim yang memberatkan terdakwa karena akibat perbuatannya menghilangkan nyawa seseorang. Adapun yang meringankan yaitu terdakwa berlaku sopan selama menjalani pesidangan.

    Penasihat hukum terdakwa, Abdul Azis, belum bisa menentukan langkah selanjutnya menyikapi putusan hakim. "Kami belum bisa menentukan sikap, apakah mengajukan banding atau tidak, kami pikir dulu. Kami juga akan pelajari keputusan majelis hakim," kata Azis.

    DIDIT HARIYADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.