Jumat, 16 November 2018

Kasus Dokter Fiera di Solok, Polisi: Ada yang Coba Adu Domba

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker/sosial media/Facebook. REUTERS/Dado Ruvic

    Ilustrasi hacker/sosial media/Facebook. REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang perempuan bernama Fiera Lovita, dokter umum yang bertugas di RSUD Kabupaten Solok, diduga mengalami intimidasi setelah dianggap melecehkan Rizieq Syihab melalui media sosial.

    Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto telah mendapat laporan dari Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat Inspektur Jenderal Fakhrizal, yang mengatakan situasi di Solok sudah tidak bermasalah. Sebab, permasalahan sudah selesai setelah ada permintaan maaf dari Fiera. "Dari awal, memang ada intimidasi oleh FPI (Front Pembela Islam). Namun, (Fiera) setelah meminta maaf, masalah selesai," ujar Setyo saat konferensi pers di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad, 28 Mei 2017.

    Setyo berujar ada yang coba mengadu domba situasi di Solok, seolah-olah dokter kembali mendapat intimidasi setelah menyatakan permohonan maaf. "Ingin menciptakan situasi yang tidak aman," ujarnya. (Baca: Menteri Tjahjo Ajak Masyarakat Kritisi Info Hoax dan Provokatif)

    Menurut Setyo, setelah Fiera menyatakan permohonan maaf, Kapolres Solok dan Kasat Intel Polres meminta permasalahan ini diselesaikan secara damai. Namun kemudian ada orang yang menelepon Fiera dan meminta kronologis kejadian. "(Penelepon) mengatakan ingin membantu menyelesaikan kasus ini," ucapnya.

    Si penelepon inilah, kata Setyo, yang diduga menyebarkan kronologis kasus dokter Fiera di media sosial dan membuat situasi seolah-olah tidak aman. "Kami akan menelusuri siapa orangnya. Gampang, kok, mengetahui siapa penelepon ini," tuturnya.

    Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat Nur Afiah menuturkan Polri bertanggung jawab atas semua warga yang perlu pengamanan, termasuk dokter Fiera. Dia menjelaskan, Polres Solok juga telah memfasilitasi pertemuan dokter dengan FPI. Dalam pertemuan itu, Fiera disebut sudah meminta maaf dengan tulus dan ikhlas. "Mereka telah berdamai," katanya. (Baca: Kekerasan Digital Ada di Sekitar Kita, Simak 6 Faktanya)

    Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Solok Komisaris Sumintak mengatakan hal serupa, Minggu. "Sudah dimediasi, dan dokter itu telah meminta maaf. Ia juga menandatangani surat pernyataan permohonan maaf atas statusnya tersebut," ujarnya.

    Namun kemudian di media sosial kembali beredar kronologis peristiwa intimidasi yang menimpa Fiera. Dalam kronologis tersebut, Fiera diceritakan kembali mendapat teror dan intimidasi. Dia sering mendapat telepon dari nomor yang tak dikenal. Di media sosial, fotonya diedit dengan tidak layak serta disebarluaskan.

    Atas hal tersebut, Sumintak berujar polisi akan memberikan pengamanan terhadap korban agar dia tetap merasa aman dan nyaman tinggal serta bekerja di Solok. (Baca: Bijaklah Berkomentar di Medsos, Efeknya Berbahaya buat Orang Lain)

    Adapun Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Padang Roni Saputra justru menyatakan prihatin atas kasus yang menimpa Fiera. Menurutnya, pernyataan status Fiera di media sosial tidak ada masalah dan tidak menghina ulama. "Di status itu, tidak ada pelecehan yang dilakukan dokter Fiera," ujarnya, Minggu.

    Menurut dia, bila mengacu pada Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, orang-orang yang mengintimidasi Fiera yang seharusnya diusut. Sebab, mereka sudah melakukan penghinaan, menyebar kebencian, dan ancaman.

    Hingga saat ini, Fiera belum dapat dimintai keterangan. Pesan yang dikirim Tempo melalui WhatsApp belum dibalas. (Baca: Dianggap Jadi Media Penyebaran Terorisme, Ini Jawaban Youtube)

    ANDRI EL FARUQI | IRSYAN HASYIM | NI




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.