Prosesi Waisak, Ribuan Umat Budha Jalan Kaki Mendut-Borobudur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Biksu membawa kendi berisi air suci yang diambil dari Umbul Jumprit Temanggung melakukan pradaksina atau berjalan mengelilingi candi saat prosesi penyemayaman Air Suci Waisak di Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah, 8 Mei 2017. Posesi penyemayaman air suci yang menjadi simbol pembersih diri dan sumber kehidupan itu merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Waisak 2561 BE. ANTARA FOTO

    Sejumlah Biksu membawa kendi berisi air suci yang diambil dari Umbul Jumprit Temanggung melakukan pradaksina atau berjalan mengelilingi candi saat prosesi penyemayaman Air Suci Waisak di Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah, 8 Mei 2017. Posesi penyemayaman air suci yang menjadi simbol pembersih diri dan sumber kehidupan itu merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Waisak 2561 BE. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ribuan umat Buddha dan ratusan biksu dari dalam dan luar negeri melakukan prosesi Waisak 2017 dengan berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Agung Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu, 10 Mei 2017.

    Prosesi tersebut dilakukan setelah mereka, yang berasal dari 14 majelis agama Buddha, membaca paritta, mantra, dan doa-doa secara khusyuk secara bergantian di depan altar megah di pelataran sebelah barat Candi Mendut, dengan dipimpin para biksu dari berbagai Dewan Sangha Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).

    Baca: Pesan Waisak, Anggota DPR: Permusuhan Berujung Kebinasaan

    Prosesi jalan kaki sejauh 3,5 kilometer dari Candi Mendut ke Candi Borobudur yang dimulai sekitar pukul 15.00 itu, dibawa pula berbagai perlengkapan puja bakti Waisak, antara lain relik Sang Buddha, air berkah, api dharma, dan kitab suci Tripitaka.

    Sejumlah biksu tampak menjalani prosesi dengan kendaraan hias berbentuk kapal. Di sepanjang jalan, mereka menaburkan bunga mawar merah dan putih serta memercikan air berkah.

    Setiap umat memegang bunga sedap malam dalam prosesi berjalan kaki tersebut. Para biksu dari berbagai Dewan Sangha Walubi juga berjalan kaki. Barisan lain, seperti pembawa lambang Garuda Pancasila, puluhan pembawa bendera Merah Putih, bendera majelis agama Buddha yang tergabung dalam Walubi, dan pembawa umbul-umbul.

    Simak pula: Pesan Waisak 2017, Kementerian Agama: Bijaksana dalam Kehidupan

    Selain itu, ada umat yang mengenakan pakaian adat berbagai daerah di Indonesia dan pembawa sejumlah tandu berisi gunungan hasil bumi, seperti padi, jagung, sayuran, dan buah-buahan.

    Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya Poo mengatakan prosesi jalan kaki yang dijalani umat bersama para biksu dari Candi Mendut ke Borobudur itu sebagai kebiasaan umat Buddha dalam perayaan Waisak setiap tahun.

    "Itu suatu gerakan bersama dalam rangka meditasi, juga yang disebut meditasi berjalan. Berjalan adalah momentum yang paling penting karena sebagai latihan kesadaran agar pikiran tetap teguh, seimbang, dan tidak terganggu apa yang di luar pikiran kita," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.