Sidang Suap Satelit Bakamla, Kabakamla Tak Tahu Adami dan Hardy

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai PT. Melati Technofo Indonesia yang juga tersangka, Hardi Stevanus turun dari mobil tahanan sebelum menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 13 Januari 2017. KPK memintai keterangan lanjutan dalam kasus dugaan suap pengadaan satelit monitoring di Bakamla. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Pegawai PT. Melati Technofo Indonesia yang juga tersangka, Hardi Stevanus turun dari mobil tahanan sebelum menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, 13 Januari 2017. KPK memintai keterangan lanjutan dalam kasus dugaan suap pengadaan satelit monitoring di Bakamla. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Laksamana Madya Arie Soedewo mengaku tidak pernah melihat apalagi mengenal dua terdakwa kasus suap proyek satelit monitoring di Bakamla RI. Muhammad Adami Okta dan Hardy Stefanus.

    “Seingat saya tidak pernah lihat,” kata Arie dalam persidangan kasus suap pejabat Bakamla di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Jumat, 28 April 2017.

    Baca : Sidang Suap Satelit Bakamla, Kabakamla Bantah Terima Duit

    Bahkan, Arie mengaku tidak pernah mengetahui bahwa Adami-Hardy merupakan representasi PT Melati Technofo Indonesia yang memenangi tender pengadaan satelit monitoring Bakamla.

    “Eko (Eko Susilo Hadi) tidak pernah melaporkan bertemu (dengan Adami dan Hardy),” ujarnya. Eko Susilo Hadi adalah Deputi Bidang Informasi, Hukum dan Kerja Sama Badan Keamanan Laut, serta kuasa pengguna anggaran (KPA) Satuan Kerja Bakamla Tahun Anggaran 2016.

    Arie berujar tidak ada informasi perihal janji pemenang lelang untuk memberikan fee kepada pejabat-pejabat Bakamla. Dia mengungkapkan tidak pernah membahas soal duit komitmen ini dengan anak buahnya sebelumnya. Pembicaraan mengenai fulus baru dia lakukan ketika dia mendengar desas desus adanya duit yang mengalir ke kantong anak buahnya.

    “Ali Fahmi saya panggil ke ruangan saya, saya tanya apa benar seperti itu. Dia tidak bercerita gamblang, 'kemungkinan ya ada beberapa staf Bapak yang terima mungkin',” kata Arie. Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi adalah Narasumber Kabakamla Bagian Perencanaan dan Anggaran. Dia juga merupakan salah satu saksi yang hendak dihadirkan dalam persidangan, namun hingga kini Komisi Pemberantasan Korupsi tidak dapat mengetahui keberadaannya.

    Ketika Operasi Tangkap Tangan dilakukan, kata Arie, dia sedang tidak berada di kantor. Dia tahu ada OTT karena ada staf yang melaporkannya. Namun, mengenai siapa yang menerima duit, dia baru mengetahuinya setelah melihat berita di televisi.

    Sebelumnya, Adami dan Hardy bersama-sama dengan bosnya di PT Merial Esa Indonesia, Fahmi Darmawansyah didakwa memberikan suap kepada pejabat Bakamla terkait dengan pengadaan satelit monitor untuk Bakamla.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.