Mantan Pansel KPK Minta Polri dan BNPT Masuk TPF Novel Baswedan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK, Novel Baswedan mendapat kunjungan setelah terkena siraman air keras, di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta, 11 April 2017. Novel Baswedan mendapat teror disiram air keras oleh seseorang setelah salat subuh berjamaah di masjid sekitar rumahnya di Kelapa Gading. Tempo/Budi Setiyarso

    Penyidik KPK, Novel Baswedan mendapat kunjungan setelah terkena siraman air keras, di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta, 11 April 2017. Novel Baswedan mendapat teror disiram air keras oleh seseorang setelah salat subuh berjamaah di masjid sekitar rumahnya di Kelapa Gading. Tempo/Budi Setiyarso

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Betti Alisjahbana, meminta agar pembentukan Tim Pencari Fakta untuk mengungkap tragedi penyiraman air keras ke penyidik KPK, Novel Baswedan, melibatkan Kepolisian RI dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Jangan dianggap kriminal biasa,” kata dia di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Ahad, 23 April 2017.

    Betti menilai kasus yang menimpa Novel seusai salat subuh di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 11 April 2017, itu bukan kriminal biasa melainkan bentuk teror. Pelibatan BNPT dinilai penting agar mempercepat menemukan pelaku yang menyiram Novel.

    Baca: Kasus Teror Novel Baswedan, Jubir KPK: Mata Kanan Pulih Signifikan

    Menurut Betti, Presiden Joko Widodo juga harus memberikan perhatian khusus dalam kasus Novel. Kasus Novel akan menjadi preseden apabila pemerintah tidak serius mengusutnya. Ia meminta pengusutan tidak hanya mencari siapa pelaku yang menyiram Novel, tapi menelusuri motif di balik penyiraman itu.

    Betti meminta agar tim yang dibentuk berasal dari orang-orang pilihan. Artinya, adalah orang-orang terbaik dari institusi kepolisian dan BNPT. “Perlu ada orang-orang terbaik untuk mengungkap siapa yang melakukan, motifnya apa,” ujar Betti.

    ICW bersama para perempuan antikorupsi pun mendesak agar TPF segera dibentuk dan bekerja. Peneliti dari ICW, Almas Sjafrina, menilai TPF bukan sesuatu yang baru.

    Baca: Selain Mata, KPK Sebut Air Keras Mengenai Rongga Hidung Novel

    Pada pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dibentuk tim dengan nama Tim 8 saat muncul kasus cicak versus buaya atau saat kriminalisasi Bibit Samad Rianto dan Candra Hamzah pada akhir 2009. ICW menilai kasus Novel Baswedan serupa dengan itu.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berkas yang Diterima dan Dalil yang Ditolak Sidang MK Pra Skors

    Inilah berkas perbaikan Tim Hukum Prabowo - Sandiaga terkait sengketa Pilpres yang diterima dan sejumlah dalil yang ditolak Sidang MK, 27 Juni 2019.