Kang Dedi Dapat Hadiah Nasi Timbel dan Bakakak  

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Desa Pucung, Karawang, berterimakasih kepada Kang Dedi setelah diberikan ongkos pulang dari Kalimantan.

    Warga Desa Pucung, Karawang, berterimakasih kepada Kang Dedi setelah diberikan ongkos pulang dari Kalimantan.

    INFO PURWAKARTA - Tujuh warga Desa Pucung, Kecamatan Kota Baru, Karawang, Jawa Barat, Senin, 10 April 2017, bertamu ke rumah dinas Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di Jalan Gandanegara Nomor 25, Purwakarta. Selain bersilaturahmi, tujuh warga ini hendak menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan Dedi yang mengirimkan ongkos pulang kampung dari Kalimantan.

    “Kami datang ke sini hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih sama Kang Dedi, sapaan akrab Dedi Mulyadi. Alhamdulillah, berkat pertolongannya, kami bisa kembali lagi ke kampung halaman,” kata Suratno, salah satu warga.

    “Kami juga membawa nasi timbel, bakakak ayam (ayam panggang), pepes teri, goreng tahu-tempe, sambal, dan lalapannya. Mugia katampi (semoga dapat diterima),” ujar Iyah, warga lainnya.

    Dengan duduk bersila, Dedi menerima mereka dengan santai dan penuh guyonan. “Make sagala mawa daherun (kenapa harus bawa makanan segala),” kata Dedi, mengomentari “hadiah” dari tamu istimewanya itu.

    “Mawa dahareun, ari duitna menang ti mana? (Bawa makanan, duitnya dari mana?)” tanya Dedi dengan nada berseloroh. Iyah pun menjawab makanan itu disiapkan menggunakan uang sisa pemberian dari Pak Bupati.

    Dedi pun tersenyum. “Ya, sudah. Sekarang saya ganti lagi duitnya,” ujar Dedi, sambil merogoh dompetnya dan mengambil uang Rp 1 juta. “Hatur nuhun, hatur nuhun,” ucap Iyah.

    Suratno menceritakan bahwa dia, Ukri, Endang, Firman, Yudi, Ita, Rosita, dan Evan, balita tiga tahun anak dari pasangan Yudi dan Rosita, pada akhir Maret 2017, diajak bekerja di perkebunan sawit di Desa Panopal, Kecamatan Lamandau, Kalimantan Selatan. “Kami berangkat dengan ongkos ditanggung perantara,” kata Suratno.

    Hanya, setelah bekerja selama 15 hari, Suratno dan kawan-kawan tak pernah mendapatkan upah seperti yang dijanjikan. Suratno dan rekan kemudian memutuskan diri untuk “kabur” dan pulang lagi ke kampung halaman. Risikonya, untuk sampai ke Pelabuhan Umay, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 140 kilometer. Dengan berganti naik truk, mereka akhirnya sampai di Pelabuhan Umay.

    “Persediaan yang tersisa hanya dua bungkus mi instan,” ucap Suratno. Mereka mengaku nyaris putus asa. Sampai akhirnya salah seorang keluarga mereka di Kampung Pucung meminta pertolongan via pesan pendek ke Kang Dedi.

    “Karena ini menyangkut urusan kemanusiaan, mereka saya beri ongkos plus uang makan selama dalam perjalanan sebesar Rp 6,5 juta,” kata Dedi. 

    “Alhamdulillah, uang pemberian dari Kang Dedi cukup untuk mengantarkan kami sampai di kampung halaman,” tutur Suratno. “Kami sampai di Pucung, Rabu dinihari, 5 April 2017.” (*).



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RZWP3K, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

    Sebanyak 21 provinsi telah menerbitkan Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang dianggap tak berpihak pada nelayan.