Ceramah Zakir Naik di Bandung Uraikan Soal Muslim Palsu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ulama asal India, Ustaz Zakir Naik memberikan paparan saat berkunjung ke gedung MUI, Jakarta, 31 Maret 2017. Ustaz Zakir Naik melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka safari dakwah. ANTARA FOTO

    Ulama asal India, Ustaz Zakir Naik memberikan paparan saat berkunjung ke gedung MUI, Jakarta, 31 Maret 2017. Ustaz Zakir Naik melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka safari dakwah. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Bandung - Penceramah dari India, Zakir Naik, menyarankan berbagai kalangan memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Quran dan hadis. “Untuk memahami Islam yang benar, jangan melihat cara penganutnya,” katanya dalam acara Visit Indonesia 2017 di Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Ahad, 2 April 2017.

    Menurut Zakir, Al-Quran merupakan kitab petunjuk. Sedangkan banyak orang Islam yang tidak menjalankan ajaran agamanya dengan baik. “Tanyakan (Islam) pada orang-orang yang paham, seperti bertanya kepada dokter ketika kita ingin tahu soal medis,” ujarnya.

    Baca: Jawaban Zakir Naik Ketika Ditanya Tentang Kelahiran Tuhan

    Zakir menganalogikan Islam dan pengikutnya seperti mobil dan pengemudi. Pengemudi yang tidak tahu cara menyetir menyebabkan tabrakan dan akan disalahkan. “Kau tidak akan menyalahkan mobilnya. Seperti itu juga melihat Islam. Lihatlah yang ahli. Lihatlah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Muslim mungkin hanya mengikuti sebagian Al-Quran dan hadis,” ucapnya menjawab seorang penanya.

    Zakir mengatakan banyak muslim yang mencantumkan agama Islam dalam kartu identitas. Nama muslim, kata dia, belum tentu beriman. “Muslim palsu tidak akan ke surga, Islamnya nama saja,” tuturnya. Seorang muslim sebenarnya, kata Zakir, memiliki iman, melakukan perbuatan baik, serta mengajak orang pada kebaikan dan kesabaran.

    Dia menyatakan berdakwah menjadi tugas seorang muslim dalam memberikan kebenaran informasi terkait dengan Islam. Sebab, saat ini, banyak nonmuslim yang tidak mempunyai pemahaman tepat tentang Islam. "Media internasional banyak memberitakan hal keliru. Karena itu, menyampaikan pesan tentang Islam kepada yang tidak memahaminya menjadi sebuah kewajiban bagi setiap muslim," tuturnya.

    Zakir menuturkan, salah satu cara meyakinkan nonmuslim agar tidak terpengaruh berita yang tidak tepat adalah dengan berdakwah. Dengan langkah tersebut, maka segala stigma negatif tentang Islam dapat terkikis. "Kita punya tanggung jawab karena kita dianjurkan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi hal yang dilarang. Apabila salah, kita koreksi. Itu tugas muslim," katanya.

    Dia mengungkapkan Indonesia memiliki jumlah penduduk dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Ia yakin Indonesia dapat menjadi kekuatan serta simbol perdamaian dunia Islam. "Indonesia harus menjadi contoh bagi dunia Islam, apalagi dengan penduduk muslim terbanyak di dunia," ujarnya.

    Saat ini, negara Islam tengah terpecah oleh berbagai konflik yang terjadi sehingga Islam kerap mendapat stigma buruk. Karena itu, kata dia, Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim di dunia harus menjadi titik awal bersatunya negara muslim. "Jika muslim bersatu, tidak ada yang berani menantang kita. Sayangnya, kita terpecah. Saya yakin Indonesia memiliki kekuatan muslim yang kuat," ucapnya.

    Dalam ceramahnya dan tanya jawab yang dimulai pukul 09.30, Zakir Naik membawakan tema Dawah or Destruction. Dia bersama keluarga rencananya akan berada di Indonesia selama 10 hari untuk berceramah keliling di lima kota dengan beragam topik. Setelah di Bandung, acara akan berlanjut ke Yogyakarta, Ponorogo, Bekasi, dan Makassar.

    ANWAR SISWADI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.