DPRD Kalsel Tolak Usulan Alat Fitnes Rp 1,9 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa SMK 6 Jakarta berolahraga dengan alat fitnes di ruang olahraga SMK 6, Kebayoran Baru, Jakarta, 5 Maret 2015. Pengadaan alat fitnes itu  merujuk pada penganggaran di APBD 2015 versi APBD dengan satu sekolah mendapat anggaran Rp 2,5 miliar. ANTARA/Reno Esnir

    Sejumlah siswa SMK 6 Jakarta berolahraga dengan alat fitnes di ruang olahraga SMK 6, Kebayoran Baru, Jakarta, 5 Maret 2015. Pengadaan alat fitnes itu merujuk pada penganggaran di APBD 2015 versi APBD dengan satu sekolah mendapat anggaran Rp 2,5 miliar. ANTARA/Reno Esnir

    TEMPO.CO, Banjarmasin - Komisi IV DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kalimantan Selatan, menolak usulan Dinas Pendidikan Kalimantan Selatan atas anggaran pengadaan alat fitnes senilai Rp 1,9 miliar di SMA Banua Bilingual Boarding School. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, Lutfi Saifuddin, mengatakan anggaran alat fitnes sebanyak itu tidak penting di tengah penghematan belanja pemerintah daerah.

    “Kami tolak, karena hal itu belum perlu. Lebih baik membantu sekolah-sekolah yang butuh bantuan. Masih banyak sekolah yang butuh bantuan, alat fitnes kan belum mendesak,” kata Lutfi usai rapat kerja bersama Dinas Pendidikan Kalsel, Selasa 22 Februari 2017.

    Baca juga: Ahok: Sekolah Beli Alat Fitnes Ngapain, Mending Banyak Push-up

    Menurut Lutfi, program kerja Dinas Pendidikan sebaiknya memprioritaskan sarana pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran dan pelosok. Itu sebabnya, ia meminta pemerintah daerah menghapus mata anggaran alat fitnes untuk SMA Banua Bilingual Boarding School. Toh, semua siswa di SMA unggulan tersebut belum tentu memanfaatkan alat fitnes.

    "Pemerintah harus banyak membangun Sekolah Menengah Kejuruan yang disesuaikan dengan potensi setiap daerah. Misalkan ada potensi pertambangan, ya dibangun SMK pertambangan," ujar politikus Partai Gerindra itu.

    Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Selatan, M. Yusuf Effendi, mengatakan program pengadaan alat fitnes senilai Rp 1,9 miliar atas usulan dari arus bawah. Toh, kata dia, rencana kontroversial itu belum keputusan bulat karena masih terbuka peluang direvisi.

    "Kalau Komisi IV enggak sependapat, mari kami agendakan khusus dengan SMA Banua membedah berbagai program yang terkait SMA Banua. Kalau alat fitnes itu prioritasnya di bawah dan dana terbatas, ya pasti tereliminasi," kata Yusuf meluruskan sengkarut alat fitnes.

    Yusuf sepakat atas kemauan Komisi IV agar Dinas Pendidikan berfokus memprioritaskan perluasan dan pemerataan akses pendidikan di wilayah pelosok. Ia bertekad memperluas angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni sekolah menengah di pelosok. Sebab, Yusuf berharap anak-anak yang tinggal di pelosok bisa mendapatkan kemudahan akses pendidikan yang memadai.

    "Sekolah-sekolah yang ruang belajarnya kurang dan belum layak, barangkali butuh tambahan ruang dan kami revitalisasi. Apa yang jadi prioritas, itu harus dikedepankan," ujar Yusuf Effendi.

    DIANANTA P. SUMEDI

    Simak: Status WA Eks Pimpinan KPK, Bodoh Rakus: Negara Gagal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.