Jumat, 14 Desember 2018

Lapangan Gasibu Bakal Dihiasi Karya Seni Seniman 2 Negara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karya seniman Arin Dwihartanto Sunaryo berjudul Somewhere, Someday, Sometime dalam pameran seni bertajuk Art at WTC Jakarta, 23 Agustus 2016. TEMPO/Nurdiansah

    Karya seniman Arin Dwihartanto Sunaryo berjudul Somewhere, Someday, Sometime dalam pameran seni bertajuk Art at WTC Jakarta, 23 Agustus 2016. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan kerja sama sister-provinces antara Jawa Barat dengan Australia Selatan akan diwujudkan dalam bentuk kolaborasi seni. Rencananya, karya seni dari seniman dari dua negara itu akan dipajang di Lapangan Gasibu, Bandung.

    "Seniman Australia diwakili Steven Cybulka dan seniman Indonesia Arin Dwihartanto Sunaryo untuk membuat ‘public art work’ di Lapangan Gasibu,” kata dia di Bandung, Rabu, 1 Februari 2017.

    Deddy menjelaskan, seni instaslasi publik itu dijadwalkan mulai dikerjakan bersama dua seniman itu pada April nanti dan rampung Oktober. Deddy akan membebaskan bentuk ekspresi seni instalasi kolaborasi dua seniman itu di Lapangan Gasibu. “Yang penting jangan merusak fungsi tata ruang lapangan Gasibu,” kata dia.

    Pembuat seni instalasi kolaborasi dua artis itu akan didampingi Project Advisory Group yang berisi wakil pemerintah daerah dua provinsi itu serta, serta kurator sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain ITB, Agung Hujatnika.

    “Instalasi ini akan memposisikan publik sebagai bagian dari karya itu sendiri. Kami membayangkan karya yang bisa memancing interaksi, idenya berkaitan dengan bunyi,” kata Agung.

    Agung mengatakan, kedua seniman yang dipilih itu belum pernah berkolaborasi sebelumnya. Steven Cybulka seniman yang sudah disodorkan oleh pemerintah Australia Selatan. Sementara  Arin yang juga putra dari seniman patung senior Sunaryo itu dipilih oleh pemprov  Jawa Barat. “Kami berpikir seniman muda yang tentu saja menjanjikan, dan punya nita untuk mengolah sesuatu yang bisa menarik diruang publik seperti ini,” kata dia.

    Menurut Agung, Arin yang memulai karyanya sebagai pelukis itu, terakhir memilih bereksperimen dengan material untuk melahirkan karya tiga dimensi. “Arin belakangan mengolah material resin, mendorong dia membuat karya tiga dimensi,” kata dia.

    Arin Dwihartanto Sunaryo mengaku belum bisa bicara banyak soal karya kolaborasi itu karena masih akan membicarakannya dengan Steven yang dijadwalkan tiba di Bandung dalam waktu dekat. “Proses kreatifnya itu ketika Steven datang dan berkolaborasi secara lebi detil,” kata dia.

    Menurut Arin, dirinya sudah menyiapkan konsep yang akan ditawarkan dalam kolaborasi itu. Diantaranya unsur interaksi publik yang coba dibangun itu dengan elemen suara. Dia mengaku sudah memulai riset sejumlah alat musik tradisional untuk menjadi referensi karya instalasi nantinya. “Yang ada di pikiran saya adalah elemen suara akan menajdi menarik karena akan membuat publik dan pengunjung bisa bermain dengan karya tersebut,” kata dia.

    Arin mengaku, karya di Lapangan Gasibu itu akan menjadi karya ruang publiknya yang pertama. Sementara Steven sudah beberapa kali membuat karya instalasi di ruang publik. “Steven saya rasa bukan orang yang saklek, saya rasa ini akan menjadi kerjasama yang sangat santai,” kata dia.

    Festival Director Adelaide Festival Center Trust, wakil pemerintah Australia Selatan, Joseph Mitchell mengatakan, kolaborasi dua artis ini untuk membuka kerja sama lebih lanjut antara dua provinsi. “Tidak ada cara yang lebih baik dalam mengekspresikan kerjasama ini dengan mleakukan instaslasi seni rupa dua seniman yang sangat baik. Kami harap proyek seni instalasi ini akan mencerminkan kerjasama itu,” kata dia.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.