Soal Mahasiswa UII, Sultan: Yang Muda Harusnya Dilindungi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kampus UII Yogjakarta. dok/wikimapia.org KOMUNIKA ONLINE

    Kampus UII Yogjakarta. dok/wikimapia.org KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Raja Yogyakarta yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X, menyesalkan pendidikan dasar maut yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, yang mengakibatkan tiga mahasiswanya tewas. "Kasus ini berdampak kurang bagus pada dunia pendidikan di DIY," ujar Sultan, menjawab pertanyaan Tempo, saat ditemui di kompleks Kepatihan, Selasa, 24 Januari 2017.

    Tiga anggota Mapala UII tewas, setelah mengikuti pendidikan dasar dan latihan bertajuk Great Camping, di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Korban maupun kampus, mengakui ada unsur kekerasan senior.

    Sultan mengatakan dampaknya bagi Yogyakarta, satu di antaranya akan muncul pertanyaan besar bagi publik. Mengapa peristiwa itu bisa terjadi di Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai Kota Pendidikan? “Mestinya kan hal seperti bisa dihindari. Kalau kita bisa merasa, yang muda itu seharusnya dilindungi seniornya,” kata Sultan, yang berharap ini menjadi kasus terakhir kali terjadi di Yogyakarta.

    Sejumlah orang tua korban yang meninggal, telah melaporkan kasus itu ke polisi DIY, untuk menindaklanjuti ke ranah hukum. Para orang tua korban meyakini, ada unsur kekerasan, sehingga membuat anak-anak itu meninggal. “Silakan orang tua melapor. Kami tak akan intervensi kasus hukum,” kata Sultan menegaskan.

    Sultan meminta kegiatan ekstra di luar kampus, terutama yang melibatkan orang-orang atau mahasiswa baru yang belum mengerti medan lapangan, dapat diawasi lebih ketat. “Jangan sampai orang belum tahu medan langsung disuruh mendaki gunung atau lari lima kilometer. Ya mesti menggeh-menggeh,” katanya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.