Yenni Wahid: Pemikiran Toleransi ala Gus Dur Diperlukan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yenni Wahid. TEMPO/Dimas Aryo

    Yenni Wahid. TEMPO/Dimas Aryo

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur The Wahid Institute Yenni Wahid mengatakan pemikiran Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang humanisme perlu terus dikembangkan di tengah menguatnya situasi intoleransi beragama saat ini.

    "Di tengah situasi kehidupan berbangsa yang terpecah belah pandangan politik, maka pikiran dan gagasan besar Gus Dur tentang humanisme perlu terus dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat," ujar Yenni melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 8 Januari 2017.

    Menurut putri Gus Dur itu, kondisi bangsa saat ini diwarnai dengan menguatnya sikap intoleransi dalam beragama, kebhinnekaan yang mulai terusik, NKRI yang terancam karena radikalisasi paham keagamaan, serta saling fitnah dan hujat karena perbedaan pandangan.

    Yenni mengatakan, dalam peringatan Haul Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu malam, 7 Januari, hadir ribuan orang dari berbagai daerah, lintas agama, dan suku. Yenni menilai kehadiran jemaah dari berbagai daerah dalam Haul Gus Dur itu membuktikan bahwa masyarakat masih mencintai dan merindukan sosok Gus Dur yang konsisten berpihak pada kaum lemah dan pembelaannya kepada minoritas.

    Yenni mengingatkan, bagi Gus Dur, apa pun risikonya, keutuhan NKRI yang telah susah payah direbut para pendahulu adalah harga mati. "Pemikiran kedamaian almarhum Gus Dur seperti yang disampaikan Presiden Jokowi dalam Haul Gus Dur di Ciganjur, yakni Gus Dur selalu menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia bahwa Islam mengajak persaudaraan dan perdamaian, bukan untuk memecah belah persatuan umat," tuturnya.

    Yenni menekankan, Gus Dur selalu mengajak umat menghargai pluralisme dan selalu membawa pesan kedamaian.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.