Sopir Angkot di Bandung Ini Sediakan Perpustakaan Gratis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Pian Sopian, sopir angkot trayek Terminal Leuwipanjang-Soreang. Angkot miliknya berfasilitas baca buku gratis. PUTRA PRIMA PERDANA

    Muhammad Pian Sopian, sopir angkot trayek Terminal Leuwipanjang-Soreang. Angkot miliknya berfasilitas baca buku gratis. PUTRA PRIMA PERDANA

    TEMPO.CO, Bandung - Pendapatan sebagai sopir angkot yang pas-pasan tidak meredupkan semangat Muhammad Pian Sopian, 36 tahun, untuk mendirikan perpustakaan. Ia tetap tekun menyediakan buku-buku bagi masyarakat umum.

    Sopir angkot jurusan Soreng-Leuwi Panjang ini belakangan menjadi viral di media sosial. Inovasinya membuat perpustakaan di dalam angkot menyebar dengan cepat di internet. Ia ramai diperbincangkan netizen.

    Jika kebanyakan sopir angkot menambah perangkat audio untuk memanjakan para penumpang, Pian justru menambahkan fasilitas buku-buku bacaan gratis untuk para penumpang. Buku yang disediakan mulai dari novel dewasa hingga komik anak-anak.

    "Angkot perpustakaan ini baru mulai Juni 2016," kata Pian saat ditemui Tempo di Terminal Leuwi Panjang, Kota Bandung, Rabu, 19 Oktober 2016 siang.

    Ide memberikan buku bacaan gratis kepada penumpang angkot ini berawal dari istrinya, Elis Ratna Suminar, 29 tahun. Latar belakang istrinya ini memang peduli terhadap dunia pendidikan.

    Selama empat tahun ke belakang, Elis menjalani kegiatan konseling keliling desa di Kabupaten Bandung untuk mengajari baca tulis kepada warga yang buta huruf. Dia juga pustakawan di SD Negeri Cisalak, Kabupaten Bandung.

    Pian sependapat dengan istrinya. Ketimbang audio, menurut dia, buku lebih bermanfaat mengusir penat penumpang yang naik angkotnya. Maklum saja, jalur Leuwi Panjang-Soreang bisa disebut jalur neraka. Macetnya luar biasa. Jarak trayek yang sebenarnya tidak begitu jauh pun bisa menempuh waktu 2 jam perjalanan.

    "Biar penumpang tidak jenuh, kan macetnya parah. Jadi penumpang bisa baca-baca sekilas yang trayeknya dekat. Kalau yang jauh ya, lumayan panjang juga bacanya," ucapnya.

    Pian sengaja membuat rak dari besi untuk menaruh 26 jenis buku berbeda. Lagi-lagi tanpa mengeluh rak tersebut dibuatnya sendiri dengan modal Rp 300 ribu. Atau bisa dikatakan dua hari pendapatannya narik angkot. Buku-bukunya memang kebanyakan lusuh. Maklum, buku itu dia dapat dari istrinya yang kebanyakan sumbangan dari perpustakaan.

    Fasilitas bacaan gratis ini bukan daya tarik. Buktinya, sejak dipasang pendapatan Pian tidak malah meningkat alias pas-pasan. "Daripada ditempelin boneka-bonekaan, mending yang bermanfaat," akunya.

    Sejalan dengan niat istrinya, jika ada rejeki melimpah di masa depan, mereka ingin sekali membeli rumah dengan halaman agak luas yang bisa dimanfaatkan sebagai perpustakaan gratis untuk anak-anak di desanya. Menurut dia, di desanya masih banyak yang buta huruf dan minat bacanya rendah.

    Pian akan tetap memodifikasi angkotnya dengan konsep edukasi. Salah keinginannya dalam waktu dekat ini adalah memasang televisi layar datar dan speaker. Dia akan memutarkan video pembelajaran bahasa inggris dan bahasa lainnya. Patut ditunggu inovasi dari Pian.

    PUTRA PRIMA PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.