7 Kesamaan Gatot & Dimas Kanjeng: Modus hingga Soal Seks!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gatot Brdjamusti (kiri) - Dimas Kanjeng. dok.TEMPO

    Gatot Brdjamusti (kiri) - Dimas Kanjeng. dok.TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta -Dua kasus menggegerkan  masyarakat baru-baru ini yakni skandal Gatot Brajamusti dan  Dimas Kanjeng Taat Pribadi.  Kedua sama-sama menggunakan  padepokan untuk kegiatan yang ternyata menjursr ke kriminal.

    Gatot selama ini dikenal sebagai guru spiritual para selebritas dan pengusaha.  Biduanita Reza Artamevia dan aktris Elma Theana pernah menjadi murid Gatot di Padepokan Brajamusti. Setelah tertangkapnya Gatot untuk kasus penggunaan narkotik oleh Kepolisian Resor Mataram, terungkap pula dugaan praktek ritual seks yang dilakukannya selama ini. Dia disebut memperdayai korban dengan sabu-sabu, kemudian melakukan pesta seks.

    Baca juga:
    Ingat Skandal Papa Minta Saham?  Nama Novanto Dipulihkan: Aneh Sekali!
    Rayuan Bos Polisi ke Jessica Wongso: Kamu Tipe Saya Banget

    Adapun Dimas Kanjeng Taat Pribadi dituduh melakukan penipuan uang dan pembunuhan santrinya. Modus penipuan yang dilakukan Taat adalah penggandaan uang. Kepada polisi, Taat mengaku bisa menggandakan uang dengan ilmu yang dimilikinya. Namun Taat gagal menunjukkan keahlian itu di hadapan polisi. Dia mengaku kegagalannya disebabkan jin yang membantunya telah pergi karena terkena gas air mata yang ditembakkan polisi saat penangkapan dirinya.

    Ada sejumlah kemiripan dari dua kasus itu antara lain:


    1. Mengandalkan  kultus individu
    Akademikus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra, menjelaskan mengenai  maraknya kasus dugaan penipuan dan pelecehan berkedok agama, seperti yang dilakukan Gatot Brajamusti dan Dimas Kanjeng Taat Pribadi  merupakan sebuah gejala kultus.

    "Ini disebut sebagai kultus yang dipimpin con man (penipu), orang yang menyalahgunakan kepercayaan orang lain kepadanya," kata Azyumardi kepada Tempo, Kamis, 29 September 2016.

    Azyumardi menjelaskan, pengkultusan masih terjadi di masyarakat karena terjadi krisis karakter. Banyak yang menempuh jalan instan dalam menyelesaikan masalah, seperti utang piutang, ambisi politik, dan jabatan.

    2. Memanfaatkan kepintaran bicara
    Azyumardi  juga mengatakan muncul penipu atau con man dengan menciptakan kultus untuk membangun karisma melalui penampilan, kepintaran berbicara, dan retorika menggunakan argumentasi agama. "Membuat orang-orang tersebut percaya atau taklid buta sehingga merasa yakin dengan hal-hal yang too good to be true, seperti menggandakan uang," ujarnya.

    Azyumardi menambahkan, solusi yang bisa dilakukan untuk menangani hal itu adalah penindaka hukum yang tegas kepada pemimpin kultus yang melakukan penipuan dan pelecehan seksual. Juga, pendidikan karakter sejak dini yang dimulai dari keluarga untuk pemahaman agama yang benar tentang apa yang perlu diimani. "Apa-apa yang perlu menggunakan akal sehat," tuturnya.

    Selanjutnya: padepokan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.