Jadi Calon Bupati Sekaligus Jurkam Ahok, Ini Kesibukan Hasto

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X (kiri) didampingi Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo (kanan) berkeliling mengunjungi stand pameran pada acara peringatan hari otonomi daerah ke-20 di alun-alun Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, 25 April 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X (kiri) didampingi Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo (kanan) berkeliling mengunjungi stand pameran pada acara peringatan hari otonomi daerah ke-20 di alun-alun Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, 25 April 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Bakal calon Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo termasuk yang ditunjuk oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi juru kampanye pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI Jakarta 2017.

    Selain Hasto,  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga ditunjuk sebagai juru kampanye. "Saya akan menerima instruksi partai  menjadi jurkam Pak Ahok," ujar Hasto, Minggu malam, 25 September 2016.

    Hasto belum mengetahui apakah tugas menjadi jurkam untuk Ahok-Djarot berpotensi menggangu jadwal kampanyenya sendiri. "Saya belum mendapat  jadwal kampanye, jadi belum tahu serepot apa nanti," ujar Hasto.

    Wakil Ketua PDIP Yogyakarta itu mengaku tidak tahu mengapa pengurus pusat menunjuk dia  menjadi juru kampanye Ahok. Dia menduga penunjukan itu karena posisinya sebagai "guru tetap" di sekolah  PDIP. "Sehingga saya diminta untuk menguatkan materi-materi kepemimpinan yang bersifat ideologis, yang melihat kebutuhan riil masyarakat," ujar Hasto.

    Posisi guru di sekolah partai ini membuat Hasto cukup moncer di tingkat nasional. Gubernur Banten Rano Karno sampai Wakil Gubernur Jakarta Djarot Saiful Hidayat pernah menjadi murid di kelasnya.

    Dokter kandungan dan juga dosen tidak tetap Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu menuturkan, kesempatan menjadi juru kampanye Ahok harus memberi keuntungan. "Saya bisa sekalian menyambangi warga Kulonprogo dan Yogya di Jakarta, mengajak mereka mendukung (Ahok-Djarot)," ujar Hasto.

    Tak hanya menggalang dukungan perantau, Hasto juga ingin keuntungan lain dengan menjadi juru kampanye Ahok.  "Paling tidak, saya bisa membuat semacam kontrak politik dengan Pak Ahok, kalau dia menang Jakarta dan Kulonprogo bisa menjadi sister city," ujar Hasto.

    Masa kampanye pilkada serentak sendiri dimulai akhir Oktober 2016. Hasto telah mendaftarkan diri bersama pasangannya, Sutedjo, yang juga bekas wakilnya di Komisi Pemilihan Umum, Jumat 23 September 2016 lalu.

    Namun Hasto-Sutedjo yang diusung koalisi tujuh partai PDIP, PAN, Golkar, NasDem, Hanura, PKS, dan PPP itu belum memiliki lawan. Koalisi Gerindra, PKB, dan Demokrat belum juga mendaftarkan jagonya, yakni Zuhadmono Ashari dan Iriani Pramastuti.

    Informasi yang beredar PKB  belum bersepakat mengusung pasangan itu karena calon wakil bupati yang menjadi jatah PKB diduduki oleh kader Gerindra. Keputusan itu berdasar rekomendasi yang dikeluarkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

    "Kami akan manfaatkan periode perpanjangan pendaftaran pilkada (28-30 September 2016) sembari menunggu keputusan dari rembug internal PKB," ujar Ketua Gerindra Kulonprogo Heri Sumardiyanta.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi Diduga Terjerat Dana Hibah

    Perkara dugaan korupsi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bermula dari operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 18 Desembe