Menteri Basuki: Banjir Garut Akibat Kerusakan Vegetasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas gabungan dari TNI, BASARNAS, Polri dan relawan menggunakan dua alat berat melanjutkan pencarian korban banjir bandang pasca meluapnya aliran sungai Cimanuk di Kampung Lapangparis, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 23 September 2016. Hingga hari ketiga tanggap darurat, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 26 jenazah korban. ANTARA FOTO

    Petugas gabungan dari TNI, BASARNAS, Polri dan relawan menggunakan dua alat berat melanjutkan pencarian korban banjir bandang pasca meluapnya aliran sungai Cimanuk di Kampung Lapangparis, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 23 September 2016. Hingga hari ketiga tanggap darurat, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 26 jenazah korban. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Malang - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menemukan adanya kerusakan vegetasi di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk. Menurut dia, kerusakan vegetasi itulah yang menjadi penyebab banjir bandang di Garut, Jawa Barat, yang mengakibatkan 26 orang tewas.

    "Saya kemarin turun langsung ke lapangan," katanya dalam Kongres Sungai Indonesia II di Waduk Selorejo, Malang, Jumat, 22 September 2016.

    Basuki meninjau lapangan bersama sejumlah pejabat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dari hasil peninjauan tersebut, menurut dia, harus ada usaha memperbaiki lingkungan di kawasan DAS Cimanuk. Jika tak segera diperbaiki, dikhawatirkan bencana alam terulang.

    Dia menyebutkan kondisi DAS memburuk sejak 1992. Faktor utama penyebab DAS kritis adalah lingkungan, seperti rusaknya vegetasi di kawasan DAS yang menyumbang bencana banjir dan tanah longsor. "Untuk memperbaiki DAS kritis, dibutuhkan peran serta semua pihak," tuturnya.

    Baca juga:
    Pencarian Korban Banjir Garut Akan Diperluas hingga Jatigede

    Gubernur Minta Kepala Daerah Waspadai Daerah Aliran Sungai

    Namun ia menyangkal perawatan proyek infrastruktur DAS rendah. Menurut dia, pengelolaan DAS dilakukan secara rutin, begitu pun pengawasan infrastruktur. Jika ada kerusakan, akan dilakukan pemeliharaan dan perawatan secara berkala.

    Kondisi waduk dan tanggul di DAS Cimanuk, dia melanjutkan, kokoh tak ada masalah. Besarnya debit air yang mengalir melimpas mengenai kawasan permukiman di bantaran sungai. "Semua waduk Jompong oke, tak ada masalah, kami pakai beton, tapi air melimpas mengenai bantaran," katanya.

    Sebelumnya, peneliti utama Hidrologi dan Pengelolaan DAS Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sutopo Purwo Nugroho, menuturkan 118 dari total 450 DAS dalam kondisi kritis karena intervensi manusia secara masif.

    Sutopo dalam siaran persnya menilai pemerintah lebih mengedepankan pengelolaan DAS dengan pembangunan fisik yang padat karya dan mahal. Setelah dibangun, kata dia, tak ada perawatan yang memadai. Padahal, pengelolaan DAS tak hanya masalah fisik, tapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan. "Termasuk melibatkan masyarakat dalam pengelolaan," katanya.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.