PLN Kesulitan Eksekusi Rencana Pembangunan PLTG Barito Kuala  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi PLN. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Ilustrasi PLN. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Banjarmasin - PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah kesulitan menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas berkekuatan 2×100 megawatt di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. General Manager PLN Kalselteng, Purnomo, mengatakan perseroan masih menunggu proses kasasi dilayangkan oleh pemilik lahan lantaran keberatan atas nilai konsinyasi yang ditetapkan tim penaksir.

    Purnomo mengklaim, PLN sudah menitipkan duit konsinyasi di Pengadilan Negeri Barito Kuala. “Intinya PLN menang. Permintaan pemilik lahan jauh di atas harga penaksir, kami menunggu proses kasasi yang masih berjalan ini,” kata Purnomo kepada Tempo, Selasa 20 September 2016.

    Pihaknya memang mengincar lahan seluas 12,5 hektare milik PT Daya Sakti, perusahaan playwood di Kecamatan Tamban, Barito Kuala, lantaran lokasinya strategis di pinggir Sungai Barito. Purnomo berasumsi, pembangkit listrik sebaiknya di bangun berdekatan dengan sungai besar agar lebih optimal.

    Baca Juga: PLN-Semen Indonesia Kerjasama Penyaluran Listrik 50 MVA

    PLTG ini, kata Purnomo, menjadi pembangkit berbahan bakar gas pertama di Provinsi Kalimantan Selatan dan kedua di wilayah Kalimantan Tengah, setelah PLTG Bangkanai di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

    Menurut Purnomo, proyek PLTG Barito Kuala salah satu bagian program Presiden Joko Widodo dalam percepatan pembangkit listrik 35.000 megawatt se-Indonesia. PLN menyiapkan dua opsi mesin yang akan menopang kerja PLTG Barito Kuala, yakni mesin gas dan turbin gas. Bila mengadopsi mesin gas, PLN butuh waktu 15 bulan menggarap konstruksi.

    Adapun jika memakai turbin gas, Purnomo mengakui butuh waktu kerja selama 18 bulan untuk merampungkan proyek. “Kebutuhan investasinya sekitar Rp 3,5 triliun.”

    PLN mentargetkan proyek PLTG Barito Kuala bisa produksi komersial pada 2019, asalkan konstruksi segera digarap. PLTG Barito Kuala, kata Purnomo, menawarkan banyak manfaat bagi daerah, seperti menjaga kehandalan pasokan listrik Kalselteng dan menarik minat investor membangun industri di Barito Kuala.

    Simak: Menteri Susi: Reklamasi Teluk Jakarta Masih Bermasalah

    Selain proyek PLTG 2×100 MW, PLN juga berencana membangun gardu induk 30 MVA di Kecamatan Cerbon, Kabupaten Barito Kuala. Bila kedua proyek berjalan pararel dan rampung secepatnya, ia yakin rasio elektrifikasi di Barito Kuala melonjak dari 82 persen menjadi 95 persen. Pihaknya sudah menemui Bupati Barito Kuala, Hasanuddin Murad, untuk membantu proses pembebasan lahan pada kedua proyek PLN itu.

    “Hingga 2019, kami prediksi beban puncak listrik di Kalselteng sebesar 1.000 MW dengan daya pembangkit mencapai 1.500 MW," kata Purnomo. Saat ini, pasokan listrik masih di kisaran 500 MW dan beban puncak 540 MW. Dalam waktu dekat, kata dia, PLN Kalselteng akan menerima tambahan daya dari PLTU Pulang Pisau 2×60 MW dan PLTG Bangkanai berkapasitas 155 MW. Kedua proyek ini belum komersial secara optimal.

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga