Menjelang Idul Adha, Marak Pencurian dan Mutilasi Sapi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah sapi untuk kurban dijajak di areal TPU Tanah Kusir, Jakarta, 6 September 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sejumlah sapi untuk kurban dijajak di areal TPU Tanah Kusir, Jakarta, 6 September 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Mojokerto - Menjelang Hari Raya Idul Adha, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, marak pencurian dan mutilasi sapi peliharaan warga. Dalam dua pekan terakhir ini sudah ada lima kali pencurian sapi dan disembelih atau dimutilasi untuk diambil dagingnya. Pencuri mengambil daging dan hanya menyisakan bagian perut dan kepala hewan itu.

    Lima kali pencurian itu terjadi di Desa Windurejo dan Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo; Desa Mojokarang, Kecamatan Dlanggu; dan dua kasus di Kecamatan Pungging. Sapi yang dirawat di kandang warga dicuri pada dini hari lalu disembelih atau dimutilasi di areal ladang, kebun, atau persawahan.

    “Setelah salat subuh, isteri saya melihat kandang ternyata hanya tinggal anak sapi, betinanya enggak ada,” kata Mistam, 60 tahun, pemilik sapi warga Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kamis, 8 September 2016. Mistam dan kerabatnya mencari sapi hilang itu.

    Setelah hari terang, warga memberi informasi jika di sawah tak jauh dari rumahnya ditemukan bagian perut sapi. Ciri-cirinya sama dengan sapi milik Mistam. “Cuma tersisa perutnya saja, semua daging sudah diambil.” Mistam mengaku rugi Rp20 juta akibat kejadian ini.

    Hal yang sama dialami Samaji, 50 tahun, warga Desa Mojokarang, Kecamatan Dlanggu. Sapi betina miliknya juga ditemukan mati membusuk di kebun tebu. “Tinggal perut dan kepalanya saja, dagingnya sudah diambil semua,” katanya.

    Begitu juga yang dialami Abdul Latif, 55 tahun, warga Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo. Satu dari dua sapi miliknya hilang dan bangkainya ditemukan di ladang jagung milik warga setempat. “Saya hendak memberi makan, eh ternyata sudah enggak ada dan bangkainya ditemukan di sawah.”

    Samaji mengaku rugi Rp10 juta. Sedangkan Latif merugi Rp15 juta.

    Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Mojokerto Inspektur Satu Suyono mengakui adanya laporan warga tentang pencurian hewan. “Petugas masih menyelidiki untuk menangkap pelaku dan mengungkap motifnya.” Dari modusnya, diduga pelaku lebih dari satu orang dan masih satu kelompok karena lokasi pencurian berada di tiga kecamatan yang saling berdekatan.

    Ia menyarankan agar penduduk melakukan ronda malam untuk mengantisipasi pencurian hewan terutama sapi. “Ronda malam akan efektif mencegah terjadinya pencurian.”

    Diduga sapi yang dicuri dan diambil dagingnya itu dijual ke pasaran karena harga daging sapi masih fluktuatif atau naik turun meski persediaan daging sapi melimpah menjelang Idul Adha.

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.