Kapolri Akan Kembali Usut Pembakar Hutan Riau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berusaha memadamkan api dengan menggunakan dahan pohon ketika terjadi kebakaran lahan di Pekanbaru, Riau, 23 Agustus 2016. Cuaca panas dan kencangnya tiupan angin membuat warga kesulitan memadamkan api yang membakar lahan tersebut. ANTARA/Rony Muharrman

    Warga berusaha memadamkan api dengan menggunakan dahan pohon ketika terjadi kebakaran lahan di Pekanbaru, Riau, 23 Agustus 2016. Cuaca panas dan kencangnya tiupan angin membuat warga kesulitan memadamkan api yang membakar lahan tersebut. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan akan kembali ke Riau untuk mengevaluasi kasus kebakaran hutan yang sebelumnya ditangani polisi setempat. "Mungkin dua atau tiga minggu kedepan saya ke sana lagi. Kalau ada pelanggaran akan saya proses," kata Tito di Mabes Polri Jakarta, Kamis, 1 September 2016.

    Tito sudah mengunjungi Riau Ahad kemarin. Di sana dia membahas surat perintah penghentian perkara (SP3) 15 perusahaan pembakar lahan di Kepolisian Daerah Riau. Dia mendorong Kepala Polda Riau Brigadir Jenderal Supriyanto menindak korporasi yang terlibat pembakaran lahan di konsesinya. 

    "Kalau bisa dibuktikan, tuntaskan perkaranya, kami akan back-up untuk proses hukumnya," ujar Tito kala itu. Namun Tito masih belum membocorkan hasil evaluasi itu. "
    Saya belum tahu, nanti akan saya cek," katanya.

    Sementara Kodam I Bukit Barisan mensinyalir 86 orang pembakar hutan yang sudah ditetapkan sebagai tersangka diduga memiliki jaringan pengupah. Jaringan tersebut diduga mengupah para pelaku pembakar tersebut dengan uang senilai Rp 150 ribu.

    Di tengah maraknya kebakaran lahan, Kodam berencana menurunkan dua batalyon serta berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jika kebakaran hutan di Riau terus meningkat.

    BacaKebakaran Hutan, 30 Perusahaan Dijatuhi Sanksi Administratif

    Sebelumnya, 300 keluarga di Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Kecamatan Pujud-Rokan Hilir, dan Kecamatan Mandau, Bengkalis, mulai mengungsi akibat terkena dampak asap kebakaran hutan dan lahan. "Asap cukup pekat sehingga penduduk harus segera dievakuasi," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo di Pekanbaru, Sabtu, 27 Agustus 2016.

    Guntur mengatakan, mayoritas penduduk yang mengungsi adalah petani sawit. Mereka tinggal di area perusahaan perkebunan swasta. Dalam proses evakuasi itu, jajaran Kepolisian Resor Rokan Hulu turut membantu dengan menyediakan kendaraan. "Selain itu, jajaran membagikan masker gratis," ujarnya.

    BacaPadamkan Kebakaran Hutan, Pratu Wahyudi Ditemukan Tewas

    Menurut Guntur, asap yang muncul pada Sabtu ini akibat kebakaran lahan sejak Senin lalu. Kepekatan asap pada Sabtu, 27 Agustus 2016, sangat parah lantaran kebakaran meluas. Sedangkan proses pendinginan menimbulkan asap tebal. Terlebih, angin kencang bertiup ke arah permukiman penduduk.

    Guntur mengatakan, penduduk sudah dievakuasi ke lapangan Dusun Jurong atau pinggir Sungai Rokan, Desa Bonai, Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu. Sedangkan sebagian penduduk sudah mengungsi lebih dulu ke keluarganya di Kota Duri, Bengkalis. "Untuk sementara, mereka kami ungsikan dulu. Perkembangan selanjutnya akan kami informasikan kembali," tuturnya ketika itu.

    Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Riau mulai menimbulkan asap pada akhir pekan lalu. Di Pekanbaru, asap kiriman terlihat sejak pagi, tapi berangsur menghilang menjelang siang. Sedangkan di wilayah pesisir Riau, seperti Bengkalis, Rokan Hilir, dan Dumai, kabut asap terpantau semakin tebal.

    INGE KLARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.