Dinas Kesehatan Jambi: DBD Lebih Berbahaya Dibanding Zika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Nyamuk Aedes albopictus betina menyedot makan darah dari kulit manusia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S. sedang menyelidiki mewabahnya virus Zika yang diduga ditularkan oleh nyamuk tersebut ataupun Aedes aegypti. James Gathany/CDC via AP

    Nyamuk Aedes albopictus betina menyedot makan darah dari kulit manusia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit A.S. sedang menyelidiki mewabahnya virus Zika yang diduga ditularkan oleh nyamuk tersebut ataupun Aedes aegypti. James Gathany/CDC via AP

    TEMPO.CO, Jambi - Kepala Bidang Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Kaswendi mengatakan, virus penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD) lebih berbahaya dibandingkan virus Zika. Apalagi sampai saat ini belum ada penderita yang terjangkit visus Zika yang meninggal. Sedangkan DBD sudah banyak menimbulkan korban jiwa.

    Menurut Kaswendi, tiak perlu terlalu dikhawatirkan karena tidak terlalu berbahaya bila dibandingkan dengan DBD walau sumbernya penularannya sama, yakni dari gigitan nyamuk aedes aegypti. “Bedanya, jika terjangkit virus zika tidak ada penurunan trambosit, jika DBD terjadi penurunan trambosit," katanya kepada Tempo, Rabu, Agustus 2016.

    Kaswendi mengakui sudah ditemukan seorang warga Provinsi Jambi yang terjangkit virus Zika. Namun dia tidak mau menyebut identitas penderita. Dikatakannya, penderita berjenis kelamin laki laki, berusia 27 tahun, terdeteksi positif terjangkit virus zika berdasarkan hasil penelitian Lembaga Eijmann pada periode 2014-2015.

    Kaswendi menjelaskan, penderita itu pun saat ini sudah sembuh. Pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, tidak akan melakukan kebijakan berupa perlakuan khusus untuk menangani masalah itu. "Kami tidak akan melakukan penanganan khusus sebagai upaya pemberantasan virus Zika, karena upaya pemberantasan DBD sudah sekaligus memberantas Zika," ujarnya.

    Gejalah penderita yang terjangkit virus zika, kata Kaswendi, sama dengan DBD. Antara lain, demam, nyeri otot, timbulnya bintik-bintik merah di badan, seperti tangan, kaki, dan punggung. Itu sebabnya masyarakat sejak dulu sudah diminta untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan 3M (menguras, menutup dan mengubur) tempat-tempat yang bisa membuat berkembangnya jentik nyamuk aedes aegypti.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, penderita DBD per Januari 2016 sudah mencapai 466 orang. Empat orang di antaranya dinyatakan meninggal. Dua orang dari Kota Jambi, seorang warga Kabupaten Batanghari dan seorang lagi warga Kabupaten Merangin.

    Penyebaran DBD yang terbanyak ditemukan di Kota Jambi, yakni sebanyak 237 kasus. Kemudian disusul Kabupaten Bungo 64 kasus, Muarojambi dan Merangin masing-masing 40 kasus, Batanghari 26 kasus, Tanjungjabung Barat 26 kasus, Tanjungjabung Timur 25 kasus, Sarolangun 8 kasus, Kota Sungaipenuh 7 kasus dan Kabupaten Tebo 2 kasus.

    Bila dibandingkan dengan periode yang sama, yakni Januari 2915 hanya terdapat 313 kasus. “Hingga saat ini belum masuk katagori kejadian luar biasa," ucap Kaswendi.

    SYAIPUL BAKHORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.