Walhi Tolak PLTU Bengkulu: Kesehatan Penduduk Terancam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan orang tergabung dalam Koalisi Break Free melakukan aksi menolak Pembangunan PLTU dan pembangunan pelabuhan Batubara di berbagai daerah Indonesia di Depan Kedutaan Jepang, Jakarta, 11 Mei 2016. Mereka juga mendesak Pemerintah Indonesia untukmenenteng Pemerintahan Jepang sebagai pendana utama ekspansi masif industri batabara di indonesia sebagai investasi kotor di negeri ini. TEMPO/Amston Probel

    Ribuan orang tergabung dalam Koalisi Break Free melakukan aksi menolak Pembangunan PLTU dan pembangunan pelabuhan Batubara di berbagai daerah Indonesia di Depan Kedutaan Jepang, Jakarta, 11 Mei 2016. Mereka juga mendesak Pemerintah Indonesia untukmenenteng Pemerintahan Jepang sebagai pendana utama ekspansi masif industri batabara di indonesia sebagai investasi kotor di negeri ini. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Bengkulu - Aktivis lingkungan menolak rencana Pemerintah Provinsi Bengkulu membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kota Bengkulu yang akan dimulai dalam waktu dekat ini.

    Beni Ardiansyah, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bengkulu, menilai rencana itu sama saja dengan menggali kuburan bagi 319.098 penduduk yang ada di daerah tersebut. “Sebanyak 319.098 jiwa terancam menerima dampak serius dari adanya aktivitas PLTU 2 x 100 Megawatt yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu,” kata Beni, pada Rabu, 24 Agustus 2016.

    Menurut dia, pembangunan PLTU bukan solusi yang tepat untuk menjawab permasalahan kekurangan listrik di daerah ini. Aktivitas dari pembangkit uap ini justru akan menciptakan permasalahan langsung.

    Pembakaran batu bara sebanyak 1 juta ton per tahun diperkirakan akan menghasilkan debu 39.85 ton setiap jam. “Seperti kita ketahui debu yang dihasilkan mengandung racun dan sangat berbahaya, bagaimana nasib anak-anak Bengkulu,” ujar Beni.

    Untuk menjawab permasalahan kekurangan pasokan tenaga listrik, Walhi menilai pemerintah masih dapat memanfaatkan sumber daya alam lainnya, salah satunya sungai. Provinsi Bengkulu memiliki 130 sungai dan anak sungai yang masih bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

    “Keselamatan kawasan hutan adalah jaminan terjaganya debit air sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air, mengapa kita tidak memanfaatkan itu,” ungkapnya.

    Selain itu, panas bumi juga menjadi salah satu energi terbarukan yang banyak dilirik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam, potensi geotermal di Indonesia terdapat di 244 lokasi, termasuk Bengkulu. Keberadaan gunung-gunung api yang banyak di Indonesia menjadi salah satu dasar potensi geotermal tersebut.

    “Rencana PLTU ini untuk siapa, buat kehidupan berkesinambungan atau membuat lubang kuburan sendiri, khususnya untuk masyarakat Bengkulu?” katanya kemudian.

    Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti mengatakan listrik merupakan kebutuhan daerah yang sangat fundamental. Bengkulu masih mengalami kekurangan listrik dengan beban puncak sekitar 258 MW, sedangkan pasokan listrik yang ada hanya 236 MW.

    Selain itu, pembangunan industri listrik sebagai upaya membuka isolasi daerah. “Kita tidak bisa mimpi terlalu jauh kalau listrik tidak tersedia. Maka dari itu hadirnya perusahaan ini adalah yang kita idam-idamkan,” ujar Ridwan Mukti beberapa waktu lalu.

    PHESI ESTER JULIKAWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.