Edisi Kemerdekaan (2): Iwak.me, Lele dari Kolam Digital

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani binaan iwak.me memberi makan ikan lele di lokasi budidaya ikan lele di Desa Banjarasri, Kec. Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur, 8 Agustus 2016. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Petani binaan iwak.me memberi makan ikan lele di lokasi budidaya ikan lele di Desa Banjarasri, Kec. Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur, 8 Agustus 2016. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Sumber penghasilan belasan penduduk di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tak lagi hanya jagung, cabai, atau tomat. Di sela-sela bercocok tanam, mereka kini sibuk mengurus lele di pekarangan mereka. “Saya tertarik karena (kegiatan ini) menambah penghasilan. Lumayan untuk biaya kuliah," ujar  Habib Muharam, bujang berusia 33 tahun, kepada Tempo.

    Budi daya lele yang dilakukan Muharam sangat praktis. Dia tak perlu menggali tanah, melainkan cukup membuat kolam dari bahan terpal selebar 4 meter. Terpal  itu dikaitkan ke rangka besi sebagai penyangga. Muharam mendapat "ilmu" pembuatan kolam terpal dari lima anak muda asal Yogyakarta, yang getol berburu mitra untuk diajak berbudi daya lele.

    Anak muda itu merupakan bagian dari Iwak.me, perusahaan rintisan (start-up) binaan Universitas Gadjah Mada, di bawah PT Gama Inovasi Berdikari. Mereka adalah Rushan Faizal, Hestyriani Anisa Widyaningsih, Ihsan Budianto, Ade Armyanta, dan Anggita Arum Pertiwi.

    Kemitraan yang mereka tawarkan tergolong baru untuk sebagian penduduk Nganjuk. Modal usaha dikumpulkan melalui patungan dan dihimpun dengan cara online. Menurut Rushan, salah seorang pendiri Iwak, cara ini meniru skema bisnis koperasi. "Memang, bisnis model kami terinspirasi dari sana. Strukturnya horizontal."

    Nganjuk dipilih Iwak karena sebagian besar penduduknya berpendapatan rata-rata Rp 500 ribu per bulan. Melalui cara ini, Iwak yakin pendapatan penduduk bisa setara dengan upah minimum regional (UMR) kurang-lebih Rp 1,2 juta per bulan.

    Keyakinan itu ternyata benar. Hingga Agustus, penduduk yang terlibat dalam program Iwak mendapat tambahan penghasilan Rp 900 ribu sampai Rp 1,5 juta setiap panen. Angka tersebut merupakan porsi bagi hasil 30 persen untuk peternak dari laba Rp 3-5 juta. Hal ini dengan asumsi satu penduduk mengelola 2-3 kolam dari bahan terpal tadi.

    Kini, kata Rushan, skema bagi hasil naik menjadi 50 persen. Sedangkan 40 persen diberikan kepada investor, sisanya untuk Iwak. Kontrak pengelolaan berlaku empat tahun, dari sebelumnya 3,5 tahun.

    Pertumbuhan dana yang dihimpun secara online sangat pesat. Awalnya, Oktober 2015, Iwak  hanya mendapat pasokan modal Rp 30 juta. Sebelas bulan kemudian, atau Agustus ini, dana yang terkumpul melonjak Rp 1 miliar.

    Sukses budi daya lele baru terfokus di Desa Kweden, Kecamatan Ngetos; Desa Wates; Kecamatan Tanjunganom; dan Desa Banjarsari, Kecamatan Ngronggot. Total 58 kolam berada di bawah pengawasan Iwak, yang berkantor di Entrepreneur Development Services UGM itu.



    Hestyriani Anisa Widyaningsih, salah satu dari lima pendiri Iwak.me

    Iwak juga mempertimbangkan budi daya ikan lain, seperti nila, yang relatif mudah dan cepat panen. Kemitraan akan diperluas cakupannya, yaitu ke Jawa Tengah. Ini seiring dengan cita-cita Iwak yang hendak masuk ke pasar ekspor. "Kami sudah mengantongi calon eksportir jaringan Singapore International Foundation," ujar bos Iwak, Hestyriani Anisa Widyaningsih, 22 tahun.

    Penjajakan kerja sama pun ditebar. Di antaranya dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. "Saya berharap warga terlibat langsung dalam pengelolaan ataupun penyewaan lahan untuk kolam," ujar Amir Mahmud, Kepala Desa Banjarsari, Kabupaten Nganjuk.


    ROBBY IRFANY | PITO AGUSTIN (YOGYAKARTA) | NOFIKA DIAN NUGROHO (NGANJUK)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.