Ribuan Orang Teken Petisi Tolak Rencana Sekolah Sehari Penuh  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang guru dengan menggendong anaknya, mengajadri sejumlah siswa belajar di Sekolah Dasar Darurat  Tanjung Jaya, Pandegelang, Banten, 25 Agustus 2014. Sekolah tersebut terdapat 5 pengajar yang mayoritas lulusan SMP.  TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Seorang guru dengan menggendong anaknya, mengajadri sejumlah siswa belajar di Sekolah Dasar Darurat Tanjung Jaya, Pandegelang, Banten, 25 Agustus 2014. Sekolah tersebut terdapat 5 pengajar yang mayoritas lulusan SMP. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -  Sebanyak 21.614 orang menandatangani petisi menolak rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang ingin memperpanjang jam sekolah bagi pelajar (full day school). Petisi itu digagas orang tua murid, Deddy Mahyarto Kresnoputro.

    “Semoga dengan mengisi petisi ini kita bisa membuat para pembuat kebijakan sadar bahwa pilihan ini justru berbahaya,” ujar Deddy, seperti dikutip dari laman petisinya di situs Change.org, Selasa, 9 Agustus 2016.

    Petisi itu membutuhkan 25 ribu tanda tangan untuk mencapai target dukungan. Deddy berharap, petisi ini mendorong orang tua dan praktisi pendidikan mencari solusi terbaik bagi kemajuan anak-anak Indonesia.

    Selain untuk orang tua murid, petisi akan dikirimkan langsung kepada Presiden Joko Widodo dan Mendikbud Muhadjir Effendy.

    Menteri Muhadjir menyampaikan gagasan sekolah sehari penuh dengan alasan memperpendek waktu siswa berada di luar sekolah. Karena itu, siswa mendapat tambahan jam untuk belajar pendidikan karakter budi pekerti dari para guru. Muhadjir memperoleh ide itu dari Finlandia, yang dinilai memiliki sumber daya manusia terbaik. Di sana, siswa diberikan pendidikan karakter.

    Muhadjir beralasan, gagasan penerapan konsep sekolah sehari penuh didasarkan pada program Nawa Cita Presiden Joko Widodo. Pada program itu, pendidikan dasar diharuskan terdiri atas komposisi 70 persen karakter dan 30 persen pengetahuan. Sedangkan pendidikan menengah pertama 60 persen karakter dan 40 persen pengetahuan.

    Muhadjir mengatakan program itu dapat membentuk budi pekerti dan karakter para siswa. “Dasar saya ini. Kemudian kami cari cara bagaimana implementasinya,” katanya di kawasan SCBD Senayan, Selasa, 9 Agustus 2016. Ia menambahkan, program pendidikan budi pekerti ditekankan dari level pendidikan dasar.

    Menurut Muhadjir, pihaknya tengah mengkaji rencana penerapan sekolah sehari penuh. Poin penting yang akan dicapai adalah penanaman budi pekerti bagi para siswa. Ia mengatakan sudah ada ukuran keberhasilan dari pendidikan karakter atau budi pekerti yang akan dilakukan. Di antaranya jujur, toleransi, disiplin, dan cinta Tanah Air. “Itu sudah ada pedomannya,” ujarnya.

    Muhadjir menuturkan pembentukan budi pekerti tidak cukup dilakukan saat pembelajaran efektif di dalam kelas. Konsep sekolah sehari penuh yang akan diterapkan mengacu pada kegiatan ekstrakurikuler. Sehingga, kata dia, perlu ada tambahan waktu, khususnya di jenjang sekolah dasar hingga SMP di luar jam pelajaran.

    Istilah sekolah sehari penuh mengemuka saat ini. Meski begitu, Muhadjir mengatakan kurang sependapat dengan istilah sekolah sehari penuh. Sebab, istilah itu akan terkesan siswa berada seharian penuh di sekolah. Padahal, kata dia, konsep sekolah sehari penuh maksudnya siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler agar membentuk karakter dan budi pekerti.


    GHOIDA RAHMAH | DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.