Ahok Pilih Jalur Partai, Ormas: Ahok Bukan Pemberani!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, berpidato saat Halal Bihalal di Markas Teman Ahok, Pejaten, Jakarta, 27 Juli 2016. Ahok mengaku hal tersebut sudah ia lihat setelah melihat dukungan dari tiga partai politik yang datang, yakni Partai NasDem, Hanura, dan Golkar. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, berpidato saat Halal Bihalal di Markas Teman Ahok, Pejaten, Jakarta, 27 Juli 2016. Ahok mengaku hal tersebut sudah ia lihat setelah melihat dukungan dari tiga partai politik yang datang, yakni Partai NasDem, Hanura, dan Golkar. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz menilai Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengambil langkah yang realistis dengan memutuskan maju pemilihan calon gubernur melalui jalur partai politik.

    Dengan pilihan itu, Ahok gagal memecahkan rekor calon independen dengan sejuta lebih dukungan perseorangan. Masykurudin menilai dukungan kepada Ahok mengalahkan semua perolehan suara partai politik di Jakarta, kecuali perolehan PDI Perjuangan. “Ternyata Ahok bukan pemberani,” katanya, Kamis, 28 Juli 2016.

    BACA: Pilih Jalur Partai, Habiburokhman Klaim Menang Lawan Ahok

    Masykurudin menganggap Ahok takut mengambil risiko yang membuat dia memutuskan memilih jalur partai. Risikonya adalah tidak lolosnya sebagai pasangan calon saat mengambil jalur perseorangan karena harus melalui verifikasi faktual. Usaha Teman Ahok pun belum cukup bagi Ahok untuk menempuh jalur independen.

    Menurut Masykurudin, Ahok perlu menjawab dengan lantang bahwa jalur partai politik tidak mengurangi kehendak masyarakat yang dikampanyekan. Yaitu, bahwa Jakarta perlu gubernur terpilih yang bebas dari intervensi siapa pun.

    BACA: Maju Lewat Parpol, Spanduk Tolak Ahok Bermunculan

    Sedangkan partai pendukung Ahok pun harus beriorientasi kepada kehendak pemilih Jakarta yang semakin tertata, transparan, dan menyejahterakan semua. Masykurudin menilai masih ada waktu menguji keberanian Ahok mendatangi Komisi Pemilihan Umum bersama pasangannya.

    "Kita tunggu apakah tanggal tiga sampai tujuh Agustus ini Ahok bersama Heru mendatangi kantor KPU," ujar Masykurudin.

    Ahok akhirnya memutuskan maju lewat partai dalam pemilihan Gubernur Jakarta 2017. Menurut Ahok, jika partai yang tidak terima suap tidak berpihak, otomotis dapat pendukung. Ahok mengaku hal itu sudah ia lihat setelah melihat dukungan tiga partai politik yang datang, yakni Partai NasDem, Hanura, dan Golkar.

    BACA: Ahok Diminta Jelaskan Apa yang Salah dengan 1 Juta KTP

    "Saya sudah coba, ini sudah berhasil. Partai sudah membuktikan dan sudah ngomong pribadi akan mendukung. Maka malam ini saya bilang kita juga harus menghargai parpol. Ya, sudah, kita pakai parpol sajalah," kata Ahok dalam acara halalbihalal dengan Teman Ahok di Graha Pejaten, Jakarta, Rabu, 27 Juli 2016.

    DANANG FIRMANTO | LARISSA HUDA

    BACA JUGA
    Arief Rachman Diberhentikan dari Labschool
    Dua Alasan 'Jalan Pulang' Sri Mulyani Menjadi Lapang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.