Balai POM Bengkulu Temukan Vaksin Tetanus yang Diduga Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Contoh vaksin palsu yang disita polisi, 23 Juni 2016. TEMPO/Rezki

    Contoh vaksin palsu yang disita polisi, 23 Juni 2016. TEMPO/Rezki

    TEMPO.COBengkulu - Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Provinsi Bengkulu Arnold Sianipar mengatakan lembaganya menemukan vaksin tetanus yang diduga palsu di Kabupaten Seluma. Menurut dia, penemuan tersebut merupakan hasil pemeriksaan terhadap beberapa sampel vaksin yang diambil dari beberapa sarana distribusi yang ada di daerah itu.

    “Hasil pengujian awal menunjukkan serum vaksin tersebut palsu. Untuk lebih meyakinkan, kami melakukan pengujian laboratorium lebih lanjut,” kata Arnold saat dihubungi, Rabu, 29 Juni 2016.

    Menurut Arnold, berdasarkan keterangan pengelola sarana distribusi, serum vaksin bermerek Biosat 1.5 tersebut didapatkan dari distributor yang ada di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Petugas curiga karena tidak sesuainya harga jual yang tertera dalam kemasan.

    Pada kemasan obat, harga serum vaksin tetanus berisi 10 ampul dibanderol Rp 158.125. Namun sarana distribusi hanya membeli seharga Rp 80 ribu dan dijual seharga Rp 120 ribu. “Selain kemasannya yang mencurigakan, kami curiga melihat harga jual lebih murah daripada harga pasaran dan harga label yang tertera,” katanya.

    Arnold mengatakan saat ini Balai POM Bengkulu telah menarik semua serum vaksin tersebut dari sarana distribusi. Dia mengatakan pengecekan baru dilakukan ke beberapa titik sarana distribusi vaksin di Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Seluma, dan Kota Bengkulu. Dari pengecekan tersebut, diambil sampel dari 49 sarana distribusi.

    “Sampel telah kami kirim ke laboratorium di Jakarta. Jika terbukti palsu, akan segera kami tindak lanjuti,” katanya. Terkait dengan dampak pemakaiannya, Arnold mengaku belum bisa memastikan. “Kemungkinan akibat yang ditimbulkan tidak ada perbaikan kondisi kesehatan dalam tubuh.”

    Arnold mengimbau masyarakat berhati-hati dalam mengkonsumsi dan menggunakan obat yang beredar. “Perhatikan kemasannya. Kalau tidak sesuai dengan yang sudah pernah dibeli sebelumnya, jangan dipakai. Lebih baik mengkonsumsi obat atas resep dokter yang tepercaya,” tuturnya.

    PHESI ESTER JULIKAWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    RZWP3K, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

    Sebanyak 21 provinsi telah menerbitkan Peraturan Daerah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang dianggap tak berpihak pada nelayan.