Ketua DPR Minta Bripka Seladi Tidak Meniru Briptu Norman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ade Komarudin menyerahkan piagam penghargaan kepada Brigadir Kepala Seladi, didampingi Ketua Komisi III Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III Taufiqulhadi dan Kapolresta Malang Decky Hendarsono di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 23 Mei 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ade Komarudin menyerahkan piagam penghargaan kepada Brigadir Kepala Seladi, didampingi Ketua Komisi III Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III Taufiqulhadi dan Kapolresta Malang Decky Hendarsono di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 23 Mei 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Ade Komarudin mengingatkan anggota Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Malang, Brigadir Kepala Seladi, agar setia mengabdi pada pekerjaannya sebagai penegak hukum, meskipun kini sosoknya sudah tenar dan dikenal publik. Seladi adalah seorang polisi yang juga merangkap sebagai pemungut sampah atau pemulung.

    "Saya tidak mau beliau jadi seperti Briptu Norman yang malah keluar dari kedinasannya lalu jadi penyanyi," ujar Akom, sapaan akrab Ade, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 23 Mei 2016.

    Baca juga:

    Heboh Kontribusi Reklamasi: Tiga Skenario Nasib Ahok
    Komunikasi Publik Ahok: Sebuah Catatan

    Pernyataan Akom mengacu pada Brigadir Satu Norman Kamaru yang keluar dari Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Gorontalo dan memilih berkarier sebagai penyanyi. Norman awalnya dikenal saat video dirinya bernyanyi lip sync lagu India, Chaiyya Chaiyya, beredar luas di Internet pada 2011.  

    Dia awalnya ber-lip sync untuk menghibur dan mengusir rasa bosan ketika sedang bertugas bersama rekannya. Video tersebut dianggap jenaka dan menampilkan sisi lain dari sosok aparat kepolisian.

    Tak jauh berbeda dengan Norman, Seladi juga menjadi buah bibir masyarakat yang terkesan atas kerja keras dan kejujurannya. Seladi pun diganjar penghargaan Polisi Teladan oleh pimpinan DPR.

    Akom mengatakan yang dilakukan Seladi memberikan contoh teladan kepada masyarakat. "Padahal bisa saja beliau dapat penghasilan tambahan dengan menerima suap terkait dengan pekerjaannya membantu masyarakat yang ingin pembuatan surat izin mengemudi lebih cepat," katanya.

    Potret Seladi secara tak langsung menggambarkan masih kurangnya kesejahteraan anggota Polri saat ini. Akom menuturkan ada gagasan yang sudah lama didiskusikan Dewan, yaitu menaikkan gaji aparat hukum. Gagasan ini juga diharapkan dapat mengurangi tindak korupsi yang merajalela.

    Namun, Akom melanjutkan, langkah tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat karena menyangkut penambahan kebutuhan anggaran. "Nanti jika anggaran kita bagus dan sehat. Sekali lagi, pada posisi sekarang tidak bisa dilakukan."

    Seladi saat ini bertugas di Unit Administrasi Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Malang. Dia membenarkan tak pernah menerima suap ketika menjalankan tugasnya. "Selama 16 tahun bertugas, ya tidak pernah terima suap, baik uang, makanan, atau apa pun," ucap Seladi.

    Seladi mengaku melakukan pekerjaan sebagai pemulung sejak 2004. Dia terbiasa memulung setelah melakukan tugasnya di Polres Kota Malang. "Biasanya, setelah piket malam atau setelah jam 6 sore, saya keliling cari sampah dan bawa ke rumah," katanya.

    Seladi mengaku membutuhkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Dia pun tak malu dan tidak masalah melakoni pekerjaan sebagai pemulung.

    GHOIDA RAHMAH

    Baca juga:
    Heboh Kontribusi Reklamasi: Tiga Skenario Nasib Ahok
    Komunikasi Publik Ahok: Sebuah Catatan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.