Operasi Pencarian Dua Pendaki Semeru Digelar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjung berfoto selfie di Ranu Regulo di Desa Ranu Pani, Kec. Senduro, Lumajang, Jawa Timur, 30 April 2016. Ranu Regulo menjadi salah satu pilihan untuk transit bagi sejumlah pendaki sebelum menaiki puncak Gunung Semeru. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Seorang pengunjung berfoto selfie di Ranu Regulo di Desa Ranu Pani, Kec. Senduro, Lumajang, Jawa Timur, 30 April 2016. Ranu Regulo menjadi salah satu pilihan untuk transit bagi sejumlah pendaki sebelum menaiki puncak Gunung Semeru. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Lumajang - Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) menutup sementara akses pendakian Gunung Semeru. Hal ini dilakukan menyusul operasi pencarian (SAR) terhadap dua pendaki asal Cirebon, yakni Supriyadi, 26 tahun, warga Blok 4 Tegal Lempuyangan Lor, Tegal Gubug, Cirebon dan Zirli Gita Ayu Savitri, 16 tahun, pelajar, Desa Bojong Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon.

    Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, John Kennedie, melalui pesan WhatsApp kepada Tempo Sabtu malam, 21 Mei 2016, mengatakan pendakian ke Gunung Semeru resmi ditutup dan dinyatakan Open SAR untuk pencarian survivor. Saat berita ini ditulis, petugas dan para pihak di Ranupani sedang melakukan persiapan untuk pelaksanaan operasi itu.

    "Petugas yang sudah diterjunkan untuk melakukan pencarian sejumlah 20 orang," kata John. Sesuai dengan rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), pendakian Gunung Semeru hanya diperkenankan sampai Kalimati dan para pendaki sudah menandatangani surat pernyataan di atas materai untuk melakukan pendakian hanya sampai dengan Kalimati.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo dari Balai Besar, dua pendaki hilang alias survivor itu berangkat dari Desa Ranupani, Selasa, 17 Mei 2016 bersama empat orang lainnya yakni Sukron, sebagai ketua rombongan, Ahmad Khaerudin, Lindianasari dan Rizatul Rizki. Kelompok pendaki ini kemudian menuju Ranu Kumbolo.

    Pada Rabu, 18 Mei 2016, rombongan berangkat dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati. Kemudian pada Kamis 19 Mei 2016, rombongan berangkat dari Kalimati menuju puncak Mahameru. Sesampainya di batas vegetasi, dua orang turun ke Kalimati karena sakit dan empat orang lainnya melanjutkan perjalanan. Keempat pendaki ini kemudian menuju Watugede dan sempat istirahat.

    Namun dua orang memilih berhenti di Watugede karena salah satu pendaki mengeluh sakit. Dua pendaki lainnya (survivor) melanjutkan perjalanan ke Puncak Mahameru. Antara pukul 08.00 WIB hingga 14.00 WIB, Sukron dan seorang pendaki lain menunggu di Watugedhe. Karena survivor tidak kunjung turun, mereka memutuskan turun ke Kalimati.

    Di Kalimati, rombongan menemui Sukaryo (relawan Sahabat Volunter Semeru), dan melaporkan hilangnya survivor. Pada Kamis, 20 Mei, sekitar pukul 06.00 WIB, Sukaryo serta beberapa orang lainnya melakukan pencarian di Puncak Mahameru, namun hasilnya nihil. Pada Kamis malam, 20 Mei 2016, sekitar pukul 20.00 WIB, Saver melaporkan secara resmi ke Kantor Resort Ranupani.

    Kepala Resort Ranupani kemudian memberangkatkan tim untuk melakukan pencarian selama 1x 24 jam dengan hasil nihil. Kepala Kepolisiam Sektor Senduro, Polres Lumajang, Ajun Komisaris Jaman mengatakan logistik yang dibawa para survivor terbatas. "Infonya logistik habis hari ini," kata Jaman.

    DAVID PRIYASIDHARTA

    Baca juga:
    Konstribusi Reklamasi Tanda Tanya Besar, Ahok Terancam?
    Heboh Konstribusi Reklamasi: Inilah 3 Skenario Nasib Ahok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.