18 Tahun Reformasi, Kebebasan Akademis Terancam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan massa yang menamakan diri Gerakan Rakyat Yogyakarta Anti Kekerasan (GERAYAK) menggelar aksi orasi di kawasan Nol Kilometer, Yogyakarta, Jumat (11/05). Massa gabungan dari berbagai elemen masyarakat Yogyakarta ini mengecam keras dan menuntut supaya pelaku kekerasan terhadap diskusi buku

    Ratusan massa yang menamakan diri Gerakan Rakyat Yogyakarta Anti Kekerasan (GERAYAK) menggelar aksi orasi di kawasan Nol Kilometer, Yogyakarta, Jumat (11/05). Massa gabungan dari berbagai elemen masyarakat Yogyakarta ini mengecam keras dan menuntut supaya pelaku kekerasan terhadap diskusi buku "Allah: Liberty and Love" karya Irshad Manji di Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), Rabu malam (09 Mei) lalu. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sejumlah dosen dan mahasiswa di Yogyakarta yang mayoritas dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mendeklarasikan Forum Intelektual Progresif. Ada 18 dosen dari berbagai kampus yang menyatakan bergabung dalam forum tersebut. Deklarasi yang bertepatan dengan peringatan 18 tahun reformasi itu mengamanatkan kepada Forum Intelektual Progresif untuk memperjuangkan kebebasan akademis.

    “Reformasi terancam. Nilai-nilai Orde Baru merusak kebebasan akademis. Intelektual Yogyakarta bersatulah!” teriak dosen sosiologi UGM, Arie Sudjito, saat menyampaikan orasinya dalam deklarasi di selasar kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Sabtu, 21 Mei 2016.

    Kebebasan akademis yang hilang itu lantaran kampus tak lagi memberi hak eksklusif untuk membicarakan topik apa saja. Terbukti, berbagai diskusi kritis dan pemutaran sejumlah film, seperti Pulau Buru Tanah Air Beta karya sutradara Rahung Nasution dan film Senyap karya sutradara Joshua Oppenheimer, di kampus UGM, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dibubarkan. Kampus tak lagi memberi kebebasan untuk memperagakan gagasan kritis, alternatif, dekonstruktif, dan terbuka.

    “Saya malu karena UGM beberapa kali membubarkan diskusi, padahal di kelas dosen mengajarkan tentang kebebasan,” kata Arie, yang ingin menjadikan UGM sebagai pelopor kebebasan akademis di Yogyakarta.

    Keprihatinan juga dirasakan sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Baskara T. Wardaya, dengan kondisi para intelektual kampus yang cenderung diam, terutama kondisi kekinian ketika rencana rekonsiliasi tragedi 1965 yang diinisiasi negara malah ditolak kelompok lain yang mencurigai adanya kebangkitan komunisme. “Kalau UGM begitu (diam), bagaimana dengan kampus lain?” ucap Baskara.

    Aktivis Social Movement Institute (SMI), Eko Prasetyo, yang menjadi salah satu inisiator Forum Intelektual Progresif, menuturkan tujuan pembentukan forum itu antara lain mendorong hubungan luas antardosen di Yogyakarta dari berbagai ilmu dan kampus dan memfasilitasi persoalan di setiap kampus yang berkaitan dengan kebebasan akademis.

    “Tugas forum hari ini tak hanya mengajarkan keberanian dan demokrasi, tapi juga menjadikan kampus sebagai teladan kebebasan akademis,” kata Eko.

    PITO AGUSTIN RUDIANA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?